The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesGembong Amijoyo adalah salah satu grup Barong Blora yang legendaris. Barong Blora merupakan salah satu bentuk kebudayaan Jenis Reog Ponorogo yang ada dan berkembang Kabupaten Blora. Banyak grup - grup barong Blora yang terkenal karena sering menampilkan Barongan hingga keluar kota Blora seperti Risang Guntur Seto, Singo Joyo, Samin Edan dan lainnya. 1
1. Versi Samin Suro Sentiko
Barongan Blora sendiri dibawa dan dikembangkan oleh Samin Surosentiko setelah tinggal di Sumoroto, Ponorogo, tempat leluhurnya di mana nama Reyog di Sumoroto saat itu lebih populer dikenal Barongan. dari segi bentuk saat itu juga kepala Reyog dengan mulut terbuka dengan mahkota merak yang besar, tetapi saat di Blora sangat sulit untuk mendapatkan bulu merak, sehingga di ganti dengan bahan ijuk yang di bentuk seperti dadak merak dan di selipkan beberapa bulu merak saja di ijuk sebagai rambut barongan blora. Samin Surosentiko ke Sumoroto atas perintah ayahnya untuk menemui saudaranya disaat namanya masih Raden Kohar. selama di Sumoroto, Suro Sentiko berganti nama yang sebelumnya raden kohar atas saran saudaranya, serta mendapatkan berbagai pengetahuan seperti bertani, kebatinan, bela diri, barongan serta pemahaman masyarakat Sumoroto yang anti Belanda, terutama kalangan warok. Barongan dari Sumoroto dibawa ke Blora sebagai media menarik simpati rakyat Blora untuk hidup lebih mandiri dan menolak kesewenangan yang merugikan rakyat, kini pola pikir tersebut dikenal dengan ajaran Samin. Namun setelah Suro Sentiko dan Pengikutnya ditangkap kolonial Belanda bahkan merampas Barongan yang digunakan pengumpulan masa dan dilarangnya pementasan barongan di kalangan pengikut inti samin, Kemudian Barongan di dilesetarikan oleh anak keturunan pengikut samin yang ditangkap Belanda, tetapi sebagian keturunan menanggalkan sebagai wong samin, karena dapat terindikasi sebagai pembangkan pemerintah kolonial belanda. 1
2.Versi Grobogan
Pada masa kerajaan Mataram Islam, daerah Grobogan termasuk Daerah Monconegoro dan pernah menjadi wilayah koordinatif Bupati Nayoko Ponorogo, sehingga Grobogan mendapatkan pengaruh dari budaya Barongan Ponorogo. Barongan di Grobogan dilapisi kulit hewan harimau yang kemudian menyebar ke Blora. Sedangkan Barongan di Blora pada masa itu menggunakan kulit hewan luwak.[1] Diarsipkan 2021-10-21 di Wayback Machine 1
3. Versi Giyanti
Dalam babad Giyanti disebutkan bahwa Blora termasuk daerah mancangara yang merupakan bawahan dari bupati Ponorogo, Sehingga pengaruh budaya dari Ponorogo termasuk barongan Ponorogo juga memengaruhi kebudayaan Di Blora. Sehingga begitu kuatnya pengaruh ponorogo menyebabkan nama-nama grup barongan di Blora menggunakan nama khas Ponorogo, seperti Singo Lodro, Singo Lodoyo, Menggolo. Dalam perkembangannya, properti Barongan Blora selalu mengikuti properti Barongan Ponorogo, dari busana, gerakan, dan sebagian musik. seperti barongan yang diperankan oleh dua orang, kini hanya di lakukan satu orang saja serta kepala barong yang botak di tengah. Pemerintah Blora mendeklarasikan Barongan Blora sebagai kesenian Khas Blora, meskipun di kota jawa tengah lainnya sendiri masih banyak terdapat group Barongan yang diperankan oleh dua orang, alias Reyog Tradisional. 1
4. Versi Modern
Dalam Sastra Modern, tokoh Singo Barong (singa raksasa) yang merupakan tokoh utama dalam kesenian barongan, merupakan visualisasi dari semangat para pejuang itu. Boleh jadi para pejuang terinspirasi oleh keberanian dan ideologi Gembong Amijoyo yang merupakan figur asli dari jelmaan Singo Barong. Lirik selanjutnya dari pantun kilat tersebut, barongan moto beling merupakan gambaran sepasang mata Singo Barong yang dibuat dari kelereng berukuran besar dan berbahan dasar kaca. Parikan ini ingin menyatakan bahwa semangat perjuangan anak bangsa tak mengenal kompromi dalam melawan penjajah Belanda. Hal ini semakin jelas apabila kita mendengar lirik selanjutnya ndhas pethak ditempiling. Menggambarkan semangat para seniman yang waktu itu ingin sekali menempeleng kepala para pejabat Belanda yang kebanyakan berkepala botak. Pada saat ini banyak peneliti dan seniman barongan mencoba membuat cerita sendiri tentang kisah penampilan barongan di Blora sebagai bentuk jati diri barongan di Blora dengan mencampurkan cerita Bantarangin dan Cerita Panji, karena sebagian seniman barongan di Blora enggan mengakui bahwa sejarah keberadaan barongan di Blora karena adanya pihak dari Ponorogo ataupun masih ketergantungannya properti, pakaian, alat musik yang dari Ponorogo. Bahkan Sebagian seniman Barongan di Blora mengganggap bahwa Reog di Ponorogo berasal dari Blora, dengan membuat cerita sendiri, selain itu dihilangkannya tulisan Seni Reog Ponorogo pada krakap reog di Blora yang kemudian diganti dengan tulisan Seni Barong Blora atau Seni Reog Blora. 1
Tokoh
Singo Barong (Gembong Amijoyo) Gendruwon (Joko Lodro) Klono Sewandono Jathilan perempuan (dahulu diperankan oleh remaja laki-laki) Bujang Ganong Seorang Warok (pawang dengan cambuknya) Untub Noyontoko Nggainah Bondet 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Barongan Gembong Amijoyo”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Barongan Gembong Amijoyo is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2