The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesBedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit. Bědhaya Sěmang) merupakan bentuk tari klasik Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka seni milik Kesultanan Mataram, kemudian diwariskan kepada Kesultanan Yogyakarta. Tarian ini diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dan menjadi varian bedaya yang paling tua. Pada 1759, tarian ini disempurnakan oleh Keraton Yogyakarta dan diakui menjadi yasa (karya) Hamengkubuwana I. Bedaya Semang dipentaskan dalam berbagai upacara adat resmi dan dilarang dipentaskan di luar istana. Tarian ini juga berfungsi sebagai ritual persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul, mirip dengan Bedaya Ketawang dari Kesunanan Surakarta. Pada tahun 2014, Bedaya Semang secara resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia milik Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor SK. 270/P/2014. 1
Sejarah
Bedaya Semang dipercaya masyarakat sebagai tarian arkaik yang diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Menurut Babad Nitik, tarian bedaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sementara nama Semang diberikan oleh Sultan Agung. Setelah Perjanjian Giyanti, seni dan budaya yang tersisa dari Kesultanan Mataram dibagi dua untuk Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Bersama Bedaya Babarlayar dan Bedaya Rambu, Kesultanan Yogyakarta melalui Hamengkubuwana I memilih untuk melestarikan tiga tarian tersebut. Sekitar 1759, struktur Bedaya Semang disempurnakan, diakui sebagai Yasa (karya) Hamengkubuwana I dan menjadi tarian pusaka dari Keraton Yogyakarta. 1
Etimologi
Istilah bahasa Jawa "semang" dalam nama tarian ini memiliki arti was-was, kegelisahan, keraguan, atau kebimbangan. Makna tersebut merujuk pada representasi keadaan batin Sultan Agung saat menerima persembahan tarian dari Kanjeng Ratu Kidul. Nama ini menggambarkan suasana psikologis yang menjadi inti dari narasi pertemuan antara penguasa daratan dan penguasa laut selatan. 1
Cerita
Narasi dalam Bedaya Semang mengisahkan pertemuan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan penguasa pantai selatan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul, di kawasan pesisir yang merupakan perbatasan simbolik antara wilayah Mataram dan daerah kekuasaan Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut, keduanya saling tertarik hingga Sultan Agung mengikuti Ratu Kidul untuk bermukim di istananya yang terletak di dasar laut selama beberapa waktu. Pertemuan tersebut diyakini terjadi bertepatan dengan malam bulan purnama, di mana daya tarik Ratu Kidul disamakan dengan cahaya bulan yang membuat Sultan Agung terpesona. Keberadaan Sultan Agung di istana laut kemudian mendapat peringatan dari Sunan Kalijaga, yang menyatakan bahwa Ratu Kidul bukanlah manusia biasa melainkan makhluk gaib. Sunan Kalijaga mengingatkan Sultan Agung agar kembali memusatkan perhatian pada tanggung jawabnya memimpin dan mengayomi rakyat yang sempat terabaikan. Atas nasihat tersebut, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Ratu Kidul, namun Ratu Kidul memberikan janji untuk tetap melindungi Sultan Agung serta para penerusnya setiap kali Kesultanan Mataram menghadapi ancaman bahaya. 1
Tujuan dan ritual
Penampilan Bedaya Semang tujuan utamanya sbagai sarana penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Secara filosofis, tarian ini berfungsi untuk memperkuat ikatan antara raja dengan kekuatan gaib yang dipercaya menjaga keseimbangan wilayah, sekaligus sebagai bentuk persembahan dan penghormatan kepada leluhur serta penguasa alam semesta. Di Keraton Yogyakarta, pertunjukan ini dianggap sebagai agenda yang langka dan sempat tidak dipentaskan dalam jangka waktu yang sangat lama. Pementasan kembali digelar pada 2002, didasari pada kepercayaan bahwa penghentian tarian tersebut dapat membawa dampak buruk. Salah satu variannya, Bedaya Harjunawijaya, pernah dipentaskan secara khusus untuk merayakan hari ulang tahun Hamengkubuwana X ke-66 pada 17 April 2010. Menurut tradisi, Bedaya Semang merupakan tarian yang secara khusus ditarikan dalam upacara Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu upacara peringatan kenaikan takhta Sultan. Dalam konteks keraton, pementasan pada acara ini berfungsi sebagai pembaruan janji spiritual antara penguasa Mataram dengan kekuatan pelindung laut selatan, sekaligus sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sultan yang sedang bertahta. Kehadiran tarian ini dalam ritual Jumenengan dipandang sebagai elemen sakral yang harus dipenuhi demi menjamin keselamatan raja dan rakyat serta menjaga kewibawaan keraton, namun kenyataannya Bedaya Semang jarang dipentaskan dalam acara-acara penting tersebut. Meskipun jarang dipentaskan, latihan (gladhen) Bedaya Semang diadakan setiap malam Selasa Kliwon dan pementasan hanya diizinkan pada hari Anggarakasih. Di Keraton Surakarta, Bedaya Semang diyakini sebagai tarian yang lebih tua dibandingkan seluruh jenis tari bedaya lainnya, termasuk Bedaya Ketawang. 1
Penari
Bedaya Semang sering dijuluki sebagai tarian roh (spirit dance), di mana pertunjukan ini hanya dilakukan oleh sembilan penari wanita yang masih perawan dengan tambahan satu penari yang berperan sebagai simbolisasi kehadiran Kanjeng Ratu Kidul. Penari Bedaya tersebut mendapatkan status sebagai pegawai resmi dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta dengan sebutan abdi dalem Bedhaya. Jumlah penari sembilan orang dipahami sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan planet-planet dalam kehidupan alam semesta, serta lambang lubang hawa sebagai kelengkapan jasmaniah manusia (babadan hawa sanga), yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang dubur. Formasi sembilan penari Bedaya Semang tersebut terdiri dari posisi batak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Bedaya Semang”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Bedaya Semang is Indonesian traditional dance from Yogyakarta, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2