Family unrecorded

Bedaya Semang

Indonesia

Bedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit. Bědhaya Sěmang) merupakan bentuk tari klasik Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka seni milik Kesultanan Mataram, kemudian diwariskan kepada Kesultanan Yogyakarta.

No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Archival typographic plate · seeded for Bedaya Semang+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to Bedaya Semang

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Bedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
SejarahBedaya Semang dipercaya masyarakat sebagai tarian arkaik yang diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17.
EtimologiIstilah bahasa Jawa "semang" dalam nama tarian ini memiliki arti was-was, kegelisahan, keraguan, atau kebimbangan.
CeritaNarasi dalam Bedaya Semang mengisahkan pertemuan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan penguasa pantai selatan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul, di kawasan pesisir yang merupakan perbatasan simbolik antara wilayah…
Tujuan dan ritualPenampilan Bedaya Semang tujuan utamanya sbagai sarana penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul.
Common Questions Answered on Record
What is Bedaya Semang in plain words?

Bedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit.

Where is Bedaya Semang practised or documented?

Sources on this page place Bedaya Semang in Indonesia.

What is the current condition of Bedaya Semang today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this Bedaya Semang entry?

Cite as: "Bedaya Semang." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/bedaya-semang, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

4 min read · 2 sources

Bedaya Semang (bahasa Jawa: ꦧꦼꦣꦪꦱꦼꦩꦁ, translit. Bědhaya Sěmang) merupakan bentuk tari klasik Jawa yang termasuk dalam kategori pusaka seni milik Kesultanan Mataram, kemudian diwariskan kepada Kesultanan Yogyakarta. Tarian ini diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dan menjadi varian bedaya yang paling tua. Pada 1759, tarian ini disempurnakan oleh Keraton Yogyakarta dan diakui menjadi yasa (karya) Hamengkubuwana I. Bedaya Semang dipentaskan dalam berbagai upacara adat resmi dan dilarang dipentaskan di luar istana. Tarian ini juga berfungsi sebagai ritual persembahan sebagai bentuk penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul, mirip dengan Bedaya Ketawang dari Kesunanan Surakarta. Pada tahun 2014, Bedaya Semang secara resmi diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia milik Daerah Istimewa Yogyakarta dengan nomor SK. 270/P/2014. 1

Sejarah

Bedaya Semang dipercaya masyarakat sebagai tarian arkaik yang diciptakan pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram pada abad ke-17. Menurut Babad Nitik, tarian bedaya adalah gubahan Kanjeng Ratu Kidul, sementara nama Semang diberikan oleh Sultan Agung. Setelah Perjanjian Giyanti, seni dan budaya yang tersisa dari Kesultanan Mataram dibagi dua untuk Kesunanan Surakarta dan Kesultanan Yogyakarta. Bersama Bedaya Babarlayar dan Bedaya Rambu, Kesultanan Yogyakarta melalui Hamengkubuwana I memilih untuk melestarikan tiga tarian tersebut. Sekitar 1759, struktur Bedaya Semang disempurnakan, diakui sebagai Yasa (karya) Hamengkubuwana I dan menjadi tarian pusaka dari Keraton Yogyakarta. 1

Etimologi

Istilah bahasa Jawa "semang" dalam nama tarian ini memiliki arti was-was, kegelisahan, keraguan, atau kebimbangan. Makna tersebut merujuk pada representasi keadaan batin Sultan Agung saat menerima persembahan tarian dari Kanjeng Ratu Kidul. Nama ini menggambarkan suasana psikologis yang menjadi inti dari narasi pertemuan antara penguasa daratan dan penguasa laut selatan. 1

Cerita

Narasi dalam Bedaya Semang mengisahkan pertemuan mistis antara Sultan Agung dari Mataram dengan penguasa pantai selatan Jawa, Kanjeng Ratu Kidul, di kawasan pesisir yang merupakan perbatasan simbolik antara wilayah Mataram dan daerah kekuasaan Ratu Kidul. Dalam pertemuan tersebut, keduanya saling tertarik hingga Sultan Agung mengikuti Ratu Kidul untuk bermukim di istananya yang terletak di dasar laut selama beberapa waktu. Pertemuan tersebut diyakini terjadi bertepatan dengan malam bulan purnama, di mana daya tarik Ratu Kidul disamakan dengan cahaya bulan yang membuat Sultan Agung terpesona. Keberadaan Sultan Agung di istana laut kemudian mendapat peringatan dari Sunan Kalijaga, yang menyatakan bahwa Ratu Kidul bukanlah manusia biasa melainkan makhluk gaib. Sunan Kalijaga mengingatkan Sultan Agung agar kembali memusatkan perhatian pada tanggung jawabnya memimpin dan mengayomi rakyat yang sempat terabaikan. Atas nasihat tersebut, Sultan Agung memutuskan untuk meninggalkan Ratu Kidul, namun Ratu Kidul memberikan janji untuk tetap melindungi Sultan Agung serta para penerusnya setiap kali Kesultanan Mataram menghadapi ancaman bahaya. 1

Tujuan dan ritual

Penampilan Bedaya Semang tujuan utamanya sbagai sarana penghormatan kepada Kanjeng Ratu Kidul. Secara filosofis, tarian ini berfungsi untuk memperkuat ikatan antara raja dengan kekuatan gaib yang dipercaya menjaga keseimbangan wilayah, sekaligus sebagai bentuk persembahan dan penghormatan kepada leluhur serta penguasa alam semesta. Di Keraton Yogyakarta, pertunjukan ini dianggap sebagai agenda yang langka dan sempat tidak dipentaskan dalam jangka waktu yang sangat lama. Pementasan kembali digelar pada 2002, didasari pada kepercayaan bahwa penghentian tarian tersebut dapat membawa dampak buruk. Salah satu variannya, Bedaya Harjunawijaya, pernah dipentaskan secara khusus untuk merayakan hari ulang tahun Hamengkubuwana X ke-66 pada 17 April 2010. Menurut tradisi, Bedaya Semang merupakan tarian yang secara khusus ditarikan dalam upacara Tingalan Jumenengan Dalem, yaitu upacara peringatan kenaikan takhta Sultan. Dalam konteks keraton, pementasan pada acara ini berfungsi sebagai pembaruan janji spiritual antara penguasa Mataram dengan kekuatan pelindung laut selatan, sekaligus sebagai simbol legitimasi kekuasaan Sultan yang sedang bertahta. Kehadiran tarian ini dalam ritual Jumenengan dipandang sebagai elemen sakral yang harus dipenuhi demi menjamin keselamatan raja dan rakyat serta menjaga kewibawaan keraton, namun kenyataannya Bedaya Semang jarang dipentaskan dalam acara-acara penting tersebut. Meskipun jarang dipentaskan, latihan (gladhen) Bedaya Semang diadakan setiap malam Selasa Kliwon dan pementasan hanya diizinkan pada hari Anggarakasih. Di Keraton Surakarta, Bedaya Semang diyakini sebagai tarian yang lebih tua dibandingkan seluruh jenis tari bedaya lainnya, termasuk Bedaya Ketawang. 1

Penari

Bedaya Semang sering dijuluki sebagai tarian roh (spirit dance), di mana pertunjukan ini hanya dilakukan oleh sembilan penari wanita yang masih perawan dengan tambahan satu penari yang berperan sebagai simbolisasi kehadiran Kanjeng Ratu Kidul. Penari Bedaya tersebut mendapatkan status sebagai pegawai resmi dalam struktur organisasi Keraton Yogyakarta dengan sebutan abdi dalem Bedhaya. Jumlah penari sembilan orang dipahami sebagai lambang arah mata angin, arah kedudukan planet-planet dalam kehidupan alam semesta, serta lambang lubang hawa sebagai kelengkapan jasmaniah manusia (babadan hawa sanga), yakni dua lubang hidung, dua lubang mata, dua lubang telinga, satu lubang mulut, satu lubang kemaluan, dan satu lubang dubur. Formasi sembilan penari Bedaya Semang tersebut terdiri dari posisi batak, endhel, jangga (gulu), apit ngajeng, apit wingking, dhadha, endhel wedalan ngajeng, endhel wedalan wingking, dan buntil. 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Bedaya Semang”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

Bedaya Semang is Indonesian traditional dance from Yogyakarta, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Bedaya Semang · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?
What does it look like? No licensed photograph yet.
Bedaya Semang — folkroom