The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesBedhaya Ela-ela (Jawa: Bedhaya Ela-ela, Carakan: ꦨꦼꦝꦪꦲꦼꦭꦲꦼꦭ) adalah salah satu tari Jawa klasik gaya Surakarta garap bedhaya. Tari ini diperkiran diciptakan pada masa SISKS Pakubuwana V yang bertahta di Karaton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bedhaya ini sempat hilang dan tidak dipentaskan lantas berhasil direkontrusksi oleh Agus Tasman. 1
Cerita dan Sejarah
Bedhaya Ela-ela ini mengisahkan perjalanan Bima untuk menmcari tirta Amerta yang termuat dalam cerita Dewaruci. Bedhaya Ela-ela ini dari berbagai sumber yang ada masih belum dipastikan sejak kapan terciptanya, tetapi berdasarkan kesaksian Laksminta, penari bedhaya di era SISKS Pakubuwana X bahwa ia pernah menyaksian pementasan Bedhaya Ela-ela yang dipersembahkan kepada Sang Sinuwun, akan tetapi sudah tidak pernah dipentaskan lagi dan belum sempat mempelajari tari tersebut bahkan tidak ada yang mengingat komposisi atau ragam geraknya. atas pertimbangan Gendhon Humardani sebagai pimpinan PKJT (Pusat Kesenian Jawa Tengah) dan ASKI (Akademi Seni Karawitan) Surakarta memutuskan untuk menyajikan tari bedhaya Ela-Ela dalam susunan yang baru meskipun sama-sama menggunakan makna dalam bingkai cerita Dewaruci. Untuk selanjutnya koreografi dan susunan tari diserahkan kepada Agus Tasman Ronoatmodjo, karawitan tari Martopangrawit sedangkan rias busana Hardjonagara atau lebih dikenal dengan Go Tik Swan.Sama seperti bedhaya atau tari klasik Jawa lainnya, Bedhaya Ela-ela ini menyiratkan penggambaran wanita yang sempurna dalam sudut padang kebudayaan Jawa. Melalui ragam gerak dan pola-pola penyajiannya, sang pencipta ingin menggambarkan kecerdasan tubuh wanita Jawa dalam mengekspresikan nilai etika, reiligi, dan estetika Jawa. Nilai-nilai Jawa yang dimaksud tentu akan mengeksresikan kelembutan dan kepatuhan wanita Jawa dan dianggap sebagai nilai ideal dalam perspektif tradisional Jawa. 1
Pathethan Lasem, Laras Pélog Pathet Nem
Gara-gara ruhara gurnita Bayu mesus musus lésus mawa lésan Harda molahna jajar bumi mapala Madeg mardi wardi Mardapa pisar, dipèngrat 1
Lala, Ketawang Gendhing Kethuk 2 Kerep minggah Gambirsawit kalajengaken Ketawang Agung, Laras Pélog Pathet Nem
Ngela-ela, andhé ngela-ngela, Pamengkuning rèh sapraja risang kala, pawaka ro wiku raja Risang Bima kalanira puruhita-puruhita babo, mring Sang Druna, minta sampurnèng dumadya Duryudana ginubeling pra arinya 'Duryudana dipengaruhi para adiknya' andhé, rempegé tur sakèhing pra Kurawa 'duh, kompaklah semua para Kurawa' aminta pitulung Sang Dwija Wara 1
(minggah Gendhing Gambirsawit)
Pan sampurna, prasasat angga jawata 'Akan menjadi sempurna, bagaikan menyerupai kedewaan' andhé, kamulyanta angluwihi sabuwana 'dhuh, kemuliaanya melebihi seluruh dunia' nora ana aji ingkang ngungkuli ana 'tidak ada kesaktian yang mengunggulinya' andhé, pasthi sira dadya ungguling ranangga 'duh, pasti engkau yang unggul dalam peperangan' ngulatana anèng Wukir Candradimuka 'waspadalah terhadap Gunung Candramuka!' 1
andhé, dyan umangkat samarga ingiring bajra 'ahai, segeralah berangkat, tiap perjalanmu diiringi gada!'(Ketawang)Babo, sangsayèng tyas kètang warahé sang raka babo, tuhu darma kamandakané Sang Druna babo, tuhu darma Babo, yèn wangsula harda merangring dumadya babo suka temah palastra madyèng samodra babo suka temah Babo, mangka kétang kang toya marta nirmala babo, Bayu Putra cancut malèbèmh samodra babo, Bayu Putra. Andhé. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Bedhaya Ela-ela”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Bedhaya Ela-Ela is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2