Family unrecorded

Dawet

Indonesia

Dawet adalah minuman berupa campuran air gula, santan, dan cendol (biasanya dicampur es) yang berasal dari desa Jabung, Mlarak Ponorogo.

Minuman segar yang dikenal dengan sebutan es dawet ini, terbuat dari bahan dasar tepung hunkwe dan tepung beras yang diberi warna hijau dari pasta pandan. Biasanya disajikan dengan sirup gula merah sebagai penambah rasa manis. Hidangan es dawet atau cendol sangat cocok jika…
Photo: Supardisahabu · CC BY-SA 4.0+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to Dawet

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Dawet adalah minuman berupa campuran air gula, santan, dan cendol (biasanya dicampur es) yang berasal dari desa Jabung, Mlarak Ponorogo.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
Asal UsulDawet berasal dari Desa Jabung, Ponorogo tanpa warna atau bening, tercatat dalam prasasti Taji Ponorogo pada abad 10.
Perbedaan cendol dan dawetDawet sudah terlebih dahulu dikonsumsi oleh orang Jawa kuno seperti yang tercatat dalam prasasti dan naskah kuno, sedangkan cendol merupakan adopsi dari dawet, inovasi yang ditemukan oleh orang-orang Jawa, di sekitar…
Museum DawetMuseum untuk minuman ini dibangun di daerah Jabung, Ponorogo oleh Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan pemerintah daerah.
Jenis-Jenis DawetDawet memiliki beberapa jenis, yaitu:
Common Questions Answered on Record
What is Dawet in plain words?

Dawet adalah minuman berupa campuran air gula, santan, dan cendol (biasanya dicampur es) yang berasal dari desa Jabung, Mlarak Ponorogo.

Where is Dawet practised or documented?

Sources on this page place Dawet in Indonesia.

What is the current condition of Dawet today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this Dawet entry?

Cite as: "Dawet." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/dawet, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

5 min read · 2 sources

Dawet adalah minuman berupa campuran air gula, santan, dan cendol (biasanya dicampur es) yang berasal dari desa Jabung, Mlarak Ponorogo. Minuman dengan rasa manis dan gurih ini juga kerap disajikan sebagai menu upacara pernikahan adat suku Jawa. Seiring perkembangan zaman, Es dawet menyebar ke seluruh kota mulai dari Kota Ngawi, Semarang, Solo, Banjarnegara, Banyumas, Cilacap, Purworejo Jakarta, Bandung, hingga luar negeri seperti Singapura dan Malaysia. 1

Asal Usul

Dawet berasal dari Desa Jabung, Ponorogo tanpa warna atau bening, tercatat dalam prasasti Taji Ponorogo pada abad 10. kemudian mulai dikenal kembali pada abad 15 pada zaman bupati Ponorogo Bathoro Katong, karena bermanfaat menyembuhkan orang sakit. Pada kala itu Warok Suro menggolo kembali pulih setelah luka melakukan perang, Kemudian Bathoro Katong memperkenalkan Dawet Jabung kepada kakanya Raden Fatah di Kesultanan Demak, Seketika Raden Fatah pun suka dengan minuman Dawet dan ingin menjadikan sebagai minuman keseharian di keraton Kesultanan Demak, kemudian dawet jabung yang berwarna bening diberi warna hijau, yang merupakan warna favorit Rasulallah Saw, Dawet yang berwarna hijau ini menyebar ke barbagai kota di Jawa Tengah. Ketika Kesultanan Demak melakukan penyerangan Portugis di Melaka, Pasukan Demak disediakan minuman Dawet Hijau supaya memiliki semangat perang yang tinggi, sehingga Dawet pun dikenal juga oleh orang melayu yang tinggal di Malaysia, Singapura, Riau dan Thailand Selatan. Di Ponorogo terdapat Kampung Dawet di sekitaran Jetis yang dijual dari warung-warung hingga restoran dengan menyajikan secara khas, yakni memberikan mangkuk dawet diatas lepek kecil, bukan nampan. 1

Perbedaan cendol dan dawet

Dawet sudah terlebih dahulu dikonsumsi oleh orang Jawa kuno seperti yang tercatat dalam prasasti dan naskah kuno, sedangkan cendol merupakan adopsi dari dawet, inovasi yang ditemukan oleh orang-orang Jawa, di sekitar abad 19 hingga awal abad 20. Perbedaan yang lainnya adalah pada bahan dasar es cendol dulunya terbuat dari sagu aren, tepung beras, dan tepung hunkwe. Umumnya dibuat hunkwe dan tepung beras saja. Tepung tersebut kemudian diberi pewarna makanan hijau atau perasan daun suji; tetapi ada juga yang memakai pandan. Setelah mendapat warna yang pas, adonan tepung hunkwe akan dicetak menggunakan alat khusus. Umumnya, berbentuk gelas panjang dengan lubang di bawahnya. Dari sana, bentuk khas lonjong dari cendol berasal. Sedangkan bahan dasar es dawet dulunya terbuat dari tepung beras ataupun tepung beras ketan, diberi pewarna hijau berupa daun suji. Proses membuatnya lebih simpel dibanding cendol. Dengan cara adonan dawet dicetak menggunakan alat berupa saringan sederhana. Adonan dawet dituang ke saringan berongga, dan kemudian digoyangkan agar adonan jatuh. Hal demikian yang membuat dawet memiliki bentuk runcing pada ujungnya. Lantaran menggunakan tepung beras, dawet cenderung mempunyai tekstur yang lebih lembut daripada es cendol yang kenyal. Dawet disajikan dengan parutan es, santan, gula merah, serta tape ketan. Tekstur, karena bahan utama yang digunakan berbeda, tekstur pada kedua jenis es tersebut juga berbeda. Es cendol memiliki tekstur yang lebih kenyal ketika digigit. Sensasi kenyal itu dihasilkan dari tepung hunkwe yang digunakan. Sementara pada es dawet memiliki tekstur yang lebih lembut dan halus. Selain itu, untuk ketebalannya, es dawet biasanya lebih tebal dibandingkan dengan es cendol. 1

Museum Dawet

Museum untuk minuman ini dibangun di daerah Jabung, Ponorogo oleh Universitas Muhammadiyah Ponorogo dan pemerintah daerah. 1

Jenis-Jenis Dawet

Dawet memiliki beberapa jenis, yaitu: 1

Dawet Jabung Ponorogo Merupakan asal dari semua varian Dawet yang ada, berasal dari Ponorogo yang dikenal memiliki manfaat menyembuhkan seseorang ketika sakit sejak era Majapahit. 1

Dawet Ayu Banjarnegara Varian es dawet yang paling populer di antara yang lainnya adalah Dawet Ayu. Kuliner pelepas dahaga dari Banjarnegara ini hampir selalu ada di berbagai daerah, baik di pinggir jalan maupun berbagai pasar tradisional. Bahan dasar pembuatan dawet ini adalah tepung beras atau tepung beras ketan. Campuran kedua tepung ini memberi sensasi lembut dan tidak terlalu kenyal. Yang menjadikan es ini spesial adalah aroma pandannya, Dawet ayu selalu menggunakan pandan asli. Aroma ini sangat khas karena disandingkan dengan nangka, santan, dan lelehan gula merah. 1

Dawet Ireng Purworejo Varian es dawet selanjutnya datang dari Purworejo, tepatnya dari Kecamatan Butuh yang bernama es dawet ireng. Ireng dalam bahasa Indonesia artinya hitam karena cendolnya berwarna hitam. Warna hitam ini berasal dari abu merang atau jerami. Hal yang paling membedakan dawet ini dengan dawet lainnya adalah warnanya. Cara penyajiannya menggunakan mangkuk kecil dengan siraman santan dan gula merah cair. 1

Dawet Jepara Ada juga varian dawet lainnya dari Jepara yang memiliki tekstur kenyal dan juga halus. Uniknya, jika biasanya dawet lain terbuat dari tepung beras lain halnya dengan es dawet Jepara ini. Bahan utamanya adalah tepung sagu aren. Untuk penyajiannya, tidak jauh beda dengan dawet ayu dari Banjarnegara yang sangat populer. Namun, biasanya dawet Jepara memiliki isian yang lebih banyak, ditambah alpukat, durian, nangka, dan juga kelapa muda. 1

Dawet Semarangan Sesuai dengan namanya, es dawet satu ini berasal dari Semarang. 1

Lihat juga

Cendol Dawet Ayu, dari Banjarnegara Dawet Ayu Rumput Laut, dari Kediri Dawet ireng 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Dawet”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

Dawet is Indonesian traditional drink from Central Java, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

The source record links this tradition to 2 external registers, which can be verified through the citation. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Dawet · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?