The tradition & historical record
5 min read · 2 sourcesBelalang goreng atau walang goreng (Hanacaraka: ꦮꦭꦤ꧀ꦒ꧀ ꦒꦺꦴꦫꦺꦤ꧀ꦒ꧀) adalah makanan tradisional Indonesia khas Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta. Hidangan ini terbuat dari belalang kayu (Valanga nigricornis) yang dibersihkan, dibumbui, lalu digoreng kering hingga renyah. Kuliner ini sering dijajakan sebagai camilan di warung pinggir jalan dan oleh-oleh wisatawan di Gunungkidul. Dahulu belalang dianggap hama, tetapi penduduk setempat mengolahnya menjadi makanan bergizi setelah sejumlah serangan hama besar melanda Jawa pada akhir abad ke-19. 1
Sejarah dan asal-usul
Tradisi mengolah belalang menjadi makanan berakar pada upaya mengatasi hama di sawah. Catatan sejarah menyebutkan wabah belalang kayu terjadi pada tahun 1898, dan puncaknya terjadi kembali pada 1915–1917, ketika ribuan belalang menyerbu kebun penduduk di Jawa. Untuk mempertahankan mata pencaharian, petani mulai menangkap belalang dan mengolahnya sebagai makanan; misalnya dengan cara dipanggang menjadi sate. Legenda setempat menceritakan slogan satir: “Karena kamu memakan pendapatanku, aku memakanmu.” sebagai pembenaran mengolah hama jadi santapan. Di Gunungkidul, kebiasaan ini diwariskan turun-temurun hingga menjadi kuliner khas. Belalang goreng kini dianggap pengganti sumber protein bagi masyarakat yang jarang mengonsumsi daging. Makanan ini bahkan telah menjadi ikon wisata kuliner Gunungkidul, pengunjung luar daerah kerap membelinya sebagai oleh-oleh khas. 1
Proses pengolahan
Pengolahan walang goreng biasanya melibatkan langkah-langkah tradisional berikut: 1
Pembersihan: Belalang hidup dipisahkan, lalu sayap, kepala, dan kotoran dibuang. Semua bagian tubuh yang tidak dimakan dikeluarkan sebelum dimasak. Pencucian: Belalang dibersihkan dengan air mengalir dan ditiriskan. Beberapa sumber menyebut penggunaan kukasan (saringan bambu) untuk membuang air. Rebus singkat: Belalang direbus sebentar hingga berubah warna (setengah matang) untuk memudahkan penghilangan kotoran dan lemak luar. Perendaman bumbu: Setelah ditiriskan, belalang direndam sekitar 20 menit dalam bumbu dasar seperti garam, bawang putih, dan ketumbar. Penambahan gula merah (metode bacem) dapat memberikan rasa manis khas dan sekaligus mengurangi alergen. Beberapa varian resep menambahkan bumbu lain seperti bawang merah, kunyit, lengkuas, atau daun jeruk untuk aroma tambahan. Menggoreng: Belalang yang telah berbumbu digoreng dalam minyak panas hingga benar-benar kering dan bertekstur renyah. Setelah digoreng, belalang disajikan utuh atau ditusuk sebagai camilan siap santap. Metode modern serupa diterapkan oleh UMKM, kini banyak belalang siap goreng atau bumbu instan dijual dalam kemasan. Meski begitu, teknik tradisional seperti menggoreng dadakan (segarnya digoreng saat dipesan) masih dijumpai di beberapa penjual lokal seperti di sepanjang Jalan Wonosari, tepatnya di Taman Hutan Raya (Tahura) Bunder, Kabupaten Gunungkidul. 1
Karakteristik dan budaya
Belalang goreng terkenal karena teksturnya yang renyah (kriuk) dan rasa gurih. Banyak orang menyamakan cita rasanya mirip udang goreng kering. Belalang digoreng kering sehingga memiliki tekstur krispi dan terasa “gurih, renyah dan lezat” sehingga sering membuat ketagihan. Kuliner ini termasuk dalam kategori jajanan ekstrem (sering disebut kuliner antimainstream) dan menarik perhatian wisatawan yang berani mencoba. Masyarakat Gunungkidul mengonsumsi walang goreng sebagai camilan sehari-hari. Biasanya ia dijual di kios pinggir jalan utama yang sering dilalui wisatawan, terutama di sekitar daerah Patuk–Wonosari dan Paliyan–Trowono. Belalang goreng juga umum disajikan sebagai lauk atau pendamping nasi. Produsen lokal menyediakan berbagai varian rasa, misalnya asin, pedas, atau manis (bacem) sesuai selera. Walau populer, belalang goreng dapat menimbulkan reaksi alergi bagi sebagian orang, mirip alergi seafood. Beberapa konsumen melaporkan gatal-gatal setelah makan walang goreng, sehingga dianalogikan bahwa “belalang kayu adalah udang yang hidup di darat” karena efek alerginya serupa. Di kalangan petani Jawa, memakan belalang bahkan dikenal dalam ajaran agama sebagai diperbolehkan (hadis Nabi). Secara kultural, walang goreng kini menjadi bagian dari kekayaan kuliner lokal dan identitas Gunungkidul. 1
Kandungan gizi dan manfaat
Belalang goreng kaya nutrisi. Dalam 100 gram belalang goreng terkandung sekitar 20–30 gram protein, sebanding dengan daging ayam atau sapi. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa kandungan protein belalang bahkan bisa sangat tinggi (hingga ~62% bila dihitung pada berat kering). Selain protein, belalang mengandung lemak sehat yang rendah (sekitar 6 gram per 100 gram), serta sejumlah vitamin dan mineral penting. Di antaranya terdapat vitamin B12, zat besi, dan seng yang berperan pada pembentukan sel darah merah, fungsi saraf, dan sistem kekebalan tubuh. Kandungan ini membuat belalang goreng bermanfaat menambah asupan energi dan gizi, terutama pada masyarakat yang kekurangan protein. Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) bahkan mempromosikan konsumsi serangga (entomophagy) sebagai strategi untuk mengatasi malnutrisi dan memperkuat ketahanan pangan global. 1
Potensi ekonomi
Belalang goreng telah menjadi peluang usaha mikro di Gunungkidul. Banyak keluarga mengolah belalang goreng sebagai produk rumahan atau UMKM. Kuliner ini dijual dalam kemasan toples atau plastik sebagai oleh-oleh. Harga satu kemasan kecil biasanya berkisar Rp18.000–20.000. Pasokan belalang diperoleh dari petani perangkap dan pemburu serangga. Namun sejak pertengahan 2000-an ketersediaan belalang di alam menurun, sehingga penjual terpaksa mendatangkan belalang dari luar DIY (misalnya Kebumen atau Cilacap). Secara ekonomis, harga beli belalang hidup di tingkat petani sekitar Rp80.000 per kg (tahun 2014). Setelah dibersihkan dan digoreng, satu kilogram belalang hidup menyusut menjadi sekitar 600 gram gorengan (penyusutan ~40%). Produk gorengan tersebut kemudian dijual kira-kira Rp350.000 per kilogram, menunjukkan nilai tambah yang tinggi. Peningkatan nilai ekonomi juga terlihat dari inovasi olahan baru. Misalnya sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) berhasil membuat abon belalang (floss belalang) sebagai produk unik berekonomis tinggi. Menurut mereka, abon belalang menjadi oleh-oleh baru yang menarik, sekaligus meningkatkan nilai jual belalang dan mendorong warga mengembangkan usahanya. Permintaan pasar sangat besar, rata-rata penjual belalang goreng dapat menjual 5–6 toples belalang goreng per hari (hari biasa), dan bisa mencapai 19 toples per jam saat musim liburan. Fenomena ini membuat usaha walang goreng berpotensi terus tumbuh. Hingga kini perdagangan walang goreng masih bersifat domestik (pasar lokal dan wisata), tetapi tren global makanan serangga membuka peluang ekspor ke luar negeri di masa depan. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Belalang goreng”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
deep-fried grashopper is deep-fried food made from grasshopper, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2