Family unrecorded

dodol garut

Indonesia

Dodol Garut (Aksara Sunda Baku: ᮓᮧᮓᮧᮜ᮪ ᮍᮛᮥᮒ᮪) adalah camilan khas Sunda yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Chocodot merupakan salah satu oleh oleh khas garut yang menyajikan campuran dodol dengan cokelat. Olahan dodol dan cokelat ini pun ditambah dengan varian rasa rasa lain seperti strawberry, durian, cabe, dan lainnya
Photo: Clarasaragih · CC BY-SA 4.0+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to dodol garut

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Dodol Garut (Aksara Sunda Baku: ᮓᮧᮓᮧᮜ᮪ ᮍᮛᮥᮒ᮪) adalah camilan khas Sunda yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
SejarahBerdasarkan situs resmi Kemdikbud, industri dodol di kabupaten ini mulai berkembang sekitar tahun 1926 atau hampir satu abad yang lalu.
Cara PembuatanProses pembuatan dodol Garut diawali dengan mendidihkan beberapa bahan baku sampai kental dan berminyak.
Lihat pulaThe text above is adapted from the Wikipedia article “Dodol Garut”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence.
Common Questions Answered on Record
What is dodol garut in plain words?

Dodol Garut (Aksara Sunda Baku: ᮓᮧᮓᮧᮜ᮪ ᮍᮛᮥᮒ᮪) adalah camilan khas Sunda yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat.

Where is dodol garut practised or documented?

Sources on this page place dodol garut in Indonesia.

What is the current condition of dodol garut today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this dodol garut entry?

Cite as: "dodol garut." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/dodol-garut, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

3 min read · 2 sources

Dodol Garut (Aksara Sunda Baku: ᮓᮧᮓᮧᮜ᮪ ᮍᮛᮥᮒ᮪) adalah camilan khas Sunda yang berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat. Pada umumnya produk Dodol Garut yang ada di pasaran memiliki karakteristik yang sama antara satu merek dengan merek lainnya baik dari bentuk, aroma, cita rasa, harga dan kemasan, akibatnya konsumen menemui kesulitan dalam membedakan mana produk dodol yang berkualitas baik dan mana produk dodol yang berkualitas rendah. Dodol Garut merupakan salah satu komoditas yang mampu mengangkat citra Kabupaten Garut sebagai penghasil Dodol yang berkualitas. Terdapat banyak sekali toko-toko atau warung-warung yang menyajikan dodol sebagai barang dagangannya. Di sepanjang jalan Kota Garut banyak penjual yang menjajakan Dodol Garut, terutama di jalan-jalan yang dijadikan sebagai pintu gerbang menuju ke daerah lain di sekitar Kota Garut. Banyak orang yang menyukai Dodol Garut ini karena rasanya yang khas yang membedakannya dengan dodol-dodol sejenis dari daerah lainnya di Indonesia. Dinamakan dodol Garut karena penganan ini diproduksi di Kabupaten Garut, Jawa Barat. 1

Sejarah

Berdasarkan situs resmi Kemdikbud, industri dodol di kabupaten ini mulai berkembang sekitar tahun 1926 atau hampir satu abad yang lalu. Salah satu orang yang mengembangkan industri dodol saat itu adalah Karsinah. Pada saat itu, dodol Garut masih menggunakan bahan baku yang sederhana, yaitu tepung beras ketan, susu, gula putih, dan santan kelapa tanpa bahan pengawet. Selain itu, proses pembuatannya pun masih terbilang sederhana. Seiring berjalannya waktu, industri dodol di Garut pun semakin berkembang. Sampai akhirnya bermunculan pengusaha dodol Garut lain pada sekitar tahun 1950-an. Kemudian dodol Garut mengalami berbagai modifikasi pada segi bahan baku dan varian rasa. Mulai muncul dodol Garut yang berbahan baku kentang, kacang, sirsak, nanas, waluh, wijeh, srikaya, durian dan sebagainya. Perkembangan dodol Garut semakin meluas karena minat dari masyarakat yang cukup tinggi. Bahkan, dodol Garut juga dipasarkan ke mancanegara, seperti Brunei, Jepang, Malaysia, Arab Saudi, Singapura, dan bahkan Inggris. 1

Cara Pembuatan

Proses pembuatan dodol Garut diawali dengan mendidihkan beberapa bahan baku sampai kental dan berminyak. Bahan baku tersebut di antaranya: 1

Tepung beras ketan yang ditumbuk atau digiling halus, Gula merah aren Gula putih Santan kelapa Kini, bahan baku dodol Garut dapat dimodifikasi dengan berbagai varian rasa pilihan. Meskipun begitu, dodol yang masih banyak diminati masyarakat adala dodol Garut yang berbahan baku tepung beras ketan. Proses pendidihan atau pemanasan bahan baku di atas membutuhkan waktu sekitar 7-8 jam agar adonan menjadi kental, berminyak, dan tidak lengket. Selama masa pemanasan, adonan harus diaduk secara terus-menerus untuk mencegah terjadinya pengendapan, memudahkan penghantaran panas, dan menghindari adonan menjadi hangus. Kemudian dinginkan adonan yang dirasa sudah kental, berminyak, dan tidak lengket. Setelah dingin, adonan tersebut akan memiliki tekstur yang padat, kenyal, dan dapat diiris. Dodol Garut pun siap dinikmati. 1

Lihat pula

Masakan Sunda 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Dodol Garut”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

dodol garut is Sundanese confectionery from Garut, Indonesia, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Dodol Garut · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?