The tradition & historical record
5 min read · 2 sourcesGolek (Carakan: ꦒꦺꦴꦭꦺꦏ꧀; pengucapan bahasa Jawa: [ɡolɛk]) merupakan bentuk tarian Jawa klasik yang berasal dari Yogyakarta, Indonesia. Tarian ini awalnya digubah sebagai tarian rakyat, kemudian diterima oleh kalangan bangsawan tinggi untuk diajarkan dan dikembangkan di keraton. Gerak utama tarian ini mengadopsi kesenian Lèdhèk, yang kemudian dihaluskan agar sesuai dengan estetika keraton. Di Keraton Yogyakarta, tari Golek ditetapkan sebagai bagian dari tiga tarian putri inti, selain Bedaya dan Srimpi. 1
Etimologi
Kata golèk dalam bahasa Jawa memiliki dua makna. Pertama, golèk berarti "mencari", yang dalam konteks tari Golek merujuk pada pencarian jati diri penari menuju kedewasaan. Kedua, golèk merujuk pada pertunjukan wayang golek, boneka kayu yang ditampilkan sebagai penutup pergelaran wayang kulit purwa. Penampilan wayang golek sebagai penutup itu dimaksudkan agar penonton dapat mengambil kesimpulan dan mencari hal-hal baik untuk diteladani dalam kehidupan sehari-hari. Makna ini juga sesuai dengan awal kemunculan tari Golek yang pada masa awalnya memang ditampilkan sebagai pertunjukan penutup. 1
Penciptaan
Tari Golek pada mulanya merupakan tari rakyat yang berakar dari tiga sumber, yaitu wayang golek, tari Lèdhèk, dan tari Klana Alus. Ketiganya kemudian diserap ke dalam lingkungan istana dan diolah kembali sesuai tata krama keraton hingga terbentuk menjadi tari Golek seperti yang dikenal saat ini. Tarian ini juga sering disandingkan dengan Tari Gambyong dari Surakarta yang sama-sama mengadopsi gerak seni Lèdhèk. Tari Golek tercipta berkat Hamengkubuwana VII (1877–1921) ketika masih bergelar Pangeran Mangkubumi. Pada awalnya, Pangeran Mangkubumi menciptakan tari Golek secara tunggal yang ditarikan pada akhir pergelaran Langendriya, yakni opera tari Jawa dengan lakon Damarwulan yang juga dikenal dengan sebutan Langendriyan. Golek-golek yang lahir pada masa ini umumnya diproses di luar tembok istana oleh para kreator seni tari dan karawitan, yang kebanyakan terdiri dari para pangeran dan bangsawan yang juga memiliki tugas di dalam keraton. Awalnya tarian ini dibawakan oleh para waranggana di luar istana, namun setelah masuk ke lingkungan keraton ditarikan oleh penari laki-laki, karena penari putri di keraton pada masa itu hanya diperbolehkan menarikan Bedaya atau Srimpi. Meskipun tergolong tari putri, tari Golek memiliki karakter yang sangat berbeda dibandingkan Bedaya ataupun Srimpi. Banyak pengolahan gerak yang bersifat menggoda dan ekspresif, sehingga ketika pertama kali ditarikan oleh putri Hamengkubuwana IX, Muryuwati Darmakusuma tarian ini menarik perhatian masyarakat yang luar biasa. Sejak itulah pandangan masyarakat terhadap tari Golek berubah menjadi positif. Tarian ini kemudian tidak lagi diasosiasikan dengan citra Lèdhèk atau penari jalanan, dan statusnya meningkat dengan disebut sebagai Beksan Golek, menandai peralihannya menjadi tari klasik. 1
Ragam gerak
Tari Golek menggambarkan seorang gadis muda yang beranjak dewasa, senang merawat tubuh (ngadi salira) dan bersolek (ngadi busana), sehingga gerak-geraknya berkesan riang, lincah, dan penuh semangat. Struktur gerak tari Golek Putri terbagi menjadi tiga bagian utama. 1
Maju Gendhing (Maju Beksan) — bagian pembuka yang diawali dengan gerak sembahan, yakni posisi kedua tangan mengatup dengan ibu jari menyentuh ujung hidung sebagai ungkapan hormat kepada Sultan dan tamu yang hadir, sekaligus secara tidak langsung mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Penari kemudian melakukan kapang-kapang encot memasuki area pementasan. Jogedan (Inti Beksan) — bagian inti yang berisi rangkaian gerak menggambarkan seorang gadis yang berhias untuk tampil cantik dan menarik. Gerak dasar pada bagian ini disebut muryani busana, yakni rangkaian gerak berhias diri yang mencakup ukelan, atrap cundhuk (memasang hiasan sanggul), atrap sumping, atrap jamang (memasang jamang), tasikan (memakai bedak), atrap slepe (memasang sabuk), miwir rikma (merapikan rambut), dan dolanan supe (memain-mainkan cincin). Ragam gerak lain yang dalam bagian ini antara lain thinthingan, kicatan, ngilo (berkaca), nggrudha, pendhapan, sabetan, aburan, lampah kanggeg, gobyogan, ulap-ulap, dan sebagainya. Pada beberapa varian, terdapat pula ragam gerak adus (mandi) yang diwujudkan dalam rangkaian seperti adus blumbang mbiyak toya, adus sarwi raup, dan adus ciblon. Varian Golek lain memiliki ragam muryani busana yang lebih beragam, di antaranya ngunggar sinom, atrap bara, nyawang supe, lembehan, dolanan sonder, atur-atur, menjangan ranggah, dan sekar suwun. Mundur Beksan — bagian penutup yang diakhiri dengan gerak sembahan dalam posisi duduk dan kapang-kapang sebagai pamitan kepada penonton. 1
Tata musik
Tari Golek diiringi oleh gamelan Jawa gagrag Yogyakarta dengan irama yang cenderung lebih cepat, ramai, dan nyaring (soran) dibandingkan iringan untuk Bedaya maupun Srimpi. Alat musik yang digunakan terdiri dari kendang, saron, bonang, kenong, dan gong. Penabuhan gamelan juga sering disisipi senggakan oleh para gerong, yaitu vokal sahutan yang menambah semarak suasana pertunjukan. Seperti dalam Bedaya dan Srimpi, penamaan tari Golek mengambil nama dari gending pokok pengiringnya. Gending yang digunakan pada satu varian bisa berbeda garap atau teknik dengan gending bernama sama di Keraton Surakarta, meskipun namanya serupa. 1
Tata busana
Busana tari Golek Putri terdiri dari jarik batik bermotif Parang Rusak, stagen, baju rompen (rompi) beludru bersulam benang emas, dan sampur atau sondher cinde. Aksesori yang dipakai meliputi jamang elar (ikat kepala berhias bulu itik serati), godheg, sumping, subang ronyok, slepe, kalung sungsun, sanggul dengan sinyong, ceplok jebehan, cundhuk jungkat dan cundhuk menthul, serta gelang dan cincin. Properti utama yang harus ada pada busana adalah sampur (selendang), karena juga difungsikan dalam gerak tari, misalnya untuk mempersonifikasikan gerak terbang maupun berkaca. Pada masa awal sebelum masuk keraton, penari Golek menggunakan busana sederhana berupa nyamping, kebaya, dan sanggul ukel tekuk karena pada saat itu tarian ini masih dibawakan oleh waranggana. Ketika tampil dalam pergelaran Langendriya, penari menggunakan baju berlengan panjang, kain bermotif parang, serta hiasan kepala berupa jamang model tinggi dengan bulu-bulu, yang merupakan rancangan dari KRT Wiroguno. Di kemudian hari, penari Golek mengenakan busana berupa mekak, kemben, atau semekan, kain bermotif parang, serta sanggul ukel tekuk yang dihiasi jungkat, mentul, bunga ceplok jebehan, dan lancur (bulu burung kuntul). 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Golek (tari)”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Golek is Indonesian traditional dance of Javanese people, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2