The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesKabuenga merupakan tradisi mencari pasangan hidup khas Kabupaten Wakatobi, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tradisi ini bermula ketika kaum para pemuda maupun gadis setempat jarang mempunyai kesempatan bertemu. Dahulu para pemuda sering berlayar untuk merantau atau lebih banyak di laut sehingga sulit bertemu dengan para gadis. Karena itulah, para lelaki dan perempuan lajang kemudian dipertemukan dalam Tradisi Kabuenga. Tradisi ritual Kabuenga yang dianggap mengandung nilai-nilai sakral oleh masyarakat Wakatobi, pada masa lampai digelar sekali dalam setahun, yakni pada setiap usai merayakan Hari Raya Idul Fitri. Para tetua adat memilih perayaan hari Raya Idul Fitri sebagai momentum paling tepat menggelar tradisi Kabuenga karena pada hari besar umat Islam, masyarakat Wakatobi yang merantau di berbagai daerah di Indonesia, bahkan di luar negeri, pulang kampung atau mudik lebaran. 1
Etnologi
Tradisi Kabuenga bermula pada legenda La Lili Alamu, putra mahkota kerajaan Kambode di Pulau Kapota, yang melatar belakangi tradisi masyarakat di kepulauan Wakatobi ini. Sebagai pria yang telah beranjak dewasa, La Lili Alamu merasa bahwa telah tiba waktunya bagi seorang wanita untuk bersanding dengannya. Niat ini pun di sampaikan kepada ayahnya, Raja Kambode. Di hadapan ayahnya, La Lili Alamu menyebut Wa Siogena, nama seorang wanita yang datang dari kalangan rakyat jelata. Bayangan Wa Siogena selalu ada di dalam pikiran, bahkan hadir dalam mimpi-mimpi sang putra raja ini. Mengetahui bahwa yang ingin dipinang anaknya adalah seorang wanita dari kalangan rakyat jelata, memuncak lah kemarahan sang Raja, tentu saja ayah La Lili Alamu menolak mentah-mentah rencana ini. Kekecewaan yang begitu mendalam meliputi hati La Lili Alamu. Timbullah keinginan nya untuk merantau ke tempat-tempat yang jauh. Sang ibu merestui, sang ayah pun merelakan nya dengan harapan putra nya akan melupakan pujaan hati nya, Wa Siogena. Tahun demi tahun telah berlalu, berbagai tempat pun telah di singgahi oleh La Lili Alamu, banyak sudah wanita yang di kenal nya tetapi Wa Siogena tetap tersimpan dalam ingatan dan sanubarinya. Sepulangnya La Lili Alamu dari tanah rantau, Raja Kambode mengadakan sayembara untuk mencari pasangan hidup bagi anak nya. Dikumpulkanlah wanita-wanita bangsawan dari penjuru negeri. Raja Kambode pun bertitah, “Putra ku akan memilih Sarung Leja buatan tangan kalian yang semuanya akan di kumpulkan di sebuah ayunan kain. Wanita yang memintal Sarung Leja yang terpilih oleh anak ku, maka dialah yang akan menjadi istrinya”. Sampai di sini akhir cerita dari kisah tradisional Wakatobi ini rasanya sudah bisa ditebak. 1
Prosesi
Altar atau ayunan kabuenga lebih dulu dipersiapkan untuk menjadi media pertemuan bagi muda-mudi di kabupaten kepulauan itu saat tradisi Kabuenga dirayakan. Tradisi pencarian pasangan hidup yang dinanti-nantikan oleh seluruh masyarakat di kecamatan wangi-wangi, Kabupaten Wakatobi ini selain telah menjadi ritual tahunan tradisi ini juga menyuguhkan tontotan unik dan menarik. Para pasangan muda-mudi yang selama ini tidak memiliki saluran untuk berkomunikasi melalui tradisi ini mereka secara langsung bisa saling bertemu dan menyatakan ikrar untuk menjadi pasangan hidup. Dalam tradisi kabuenga ini, kaum perempuan yang sudah akil balik berkumpul melingkari altar kabuenga sambil menggunakan pakaian adat khas wakatobi dan menyiapkan sajian makanan tradisional yang dihiasi dengan beragam aksesoris tetapi nilai naturalnya tetap terjaga. Tarian Pajoge yang diiringi irama gendang dan bunyi gong mengawali proses sakral ini. Selain kaum muda-mudi, kalangan orang tua juga memainkan tarian ini. Bagi laki-laki yang ikut serta dalam tarian ini, diwajibkan untuk merogoh kocek dan memberikan uang kepada kaum perempuan. Makna filosofis Tarian Pajoge ini, menceritakan kehidupan setiap kaum laki-laki di kabupaten Wakatobi yang sebagian besar hidupnya selalu menjadi perantau. Dalam perantauan, kaum laki-laki bernazar saat pulang kampung halaman wajib menyumbangkan sebagian pendapatannya kepada para penari-penari yang menyambutnya. Untuk mengiringi prosesi kabuenga, para pemangku adat kemudian mengelilingi ayunan kabuenga yang berdiri ditengah lapangan terbuka sambil mengalunkan irama lagu tradisional. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Kabuenga”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Kabuenga is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 2 external registers, which can be verified through the citation. 2