Kacapi Buhun merupakan alat musik tradisional masyarakat Baduy. Kacapi ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan kecapi pada umumnya dan bisa dipetik sambil dibawa oleh pemainnya.
No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Kacapi Buhun merupakan alat musik tradisional masyarakat Baduy. Kacapi ini memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan dengan kecapi pada umumnya dan bisa dipetik sambil dibawa oleh pemainnya. Perbedaan lainnya yaitu di jumlah senar yang berjumlah 12. Kacapi Buhun pertama kali diusulkan masuk dalam daftar warisan budaya tak benda pada tahun 2023 dan resmi terdaftar pada tahun 2024.
Bahan dasar pembuatan alat musik ini adalah kayu pohon lame. Proses pembuatan alat ini memerlukan ritual khusus dan persyaratan hingga pantangan yang harus dipenuhi. Waktu yang diperlukan dalam pembuatannya bisa mencapai dua minggu. Kacapi buhun hanya dimainkan saat ada acara ritual adat Masyarakat Baduy tertentu saja dan tidak bisa ditampilkan di panggung. Hanya bisa digunakan untuk mengiringi pantun kuno Baduy. Selain itu, biasanya digunakan untuk mengiringi lagu-lagu warisan turun-temurun seperti: kembang kacang, ngala parasi, suluh kadu, cina modar, mulung picung, rancag perang, kawuruhan, kangkung kayang, munggal iris, piit mandi, guguritan, pengirihan rayon, pengantin juga, racik numbang, dagang kembang, ganjur perang
Pembuat atau perajin Kacapi Buhun saat ini hanya tersisa satu orang yaitu Amin atau yang biasa disebut Ki Pantun.
The text above is adapted from the Wikipedia article “Kacapi Buhun”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence.
Kacapi Buhun is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 1