Kucingan (aksara Jawa: ꦏꦸꦕꦶꦔꦤ꧀) adalah sebuah kesenian tradisonal akrobatik yang menggunakan bambu yang dihubungkan dengan sebuah tali tambang yang panjang dari Ponorogo dan masih berhubungan dengan Reog Ponorogo.
No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Kucingan (aksara Jawa: ꦏꦸꦕꦶꦔꦤ꧀) adalah sebuah kesenian tradisonal akrobatik yang menggunakan bambu yang dihubungkan dengan sebuah tali tambang yang panjang dari Ponorogo dan masih berhubungan dengan Reog Ponorogo.
01 · What it is
Living Tradition
Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.
02 · Where & name
Indonesia
Placed on record in Indonesia.
03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)
Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.
04 · Proof & reuse
2 cited sources
Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.
Chapter Takeaways
SejarahKucingan menceritakan seekor kucing yang diperankan Singo Barong tanpa dadak merak sedang mengejar tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya.
PerkembanganPerkembangan Kucingan sama seperti Reog.
Kucingan (aksara Jawa: ꦏꦸꦕꦶꦔꦤ꧀) adalah sebuah kesenian tradisonal akrobatik yang menggunakan bambu yang dihubungkan dengan sebuah tali tambang yang panjang dari Ponorogo dan masih berhubungan dengan Reog Ponorogo.
Where is Kucingan practised or documented?
Sources on this page place Kucingan in Indonesia.
What is the current condition of Kucingan today?
□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.
How do I cite or share this Kucingan entry?
Cite as: "Kucingan." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/kucingan, text CC BY-SA, with attribution.
Kucingan (aksara Jawa: ꦏꦸꦕꦶꦔꦤ꧀) adalah sebuah kesenian tradisonal akrobatik yang menggunakan bambu yang dihubungkan dengan sebuah tali tambang yang panjang dari Ponorogo dan masih berhubungan dengan Reog Ponorogo. 1
Sejarah
Kucingan menceritakan seekor kucing yang diperankan Singo Barong tanpa dadak merak sedang mengejar tikus yang diperankan oleh Bujang Ganong, karena telah mengganggu tidurnya.
Kesenian ini telah ada sejak lama, bahkan para peneliti dan pecinta seni dari Kerajaan kolonial Belanda menyebut bahwa Kucingan yang selalu ada pada Reog merupakan atraksi sirkus asli Jawa.
Apabila pada pertunjukan Reog begitu menakutkan penonton, berbeda lagi pada seni Kucingan yang selalu menampilkan humor, komedi, dan kelucuan penari. 1
Perkembangan
Perkembangan Kucingan sama seperti Reog. Bahkan Kucingan juga dapat ditemukan di luar Jawa seperti di Sumatra, Kalimantan, hingga Hong Kong. Pada tahun 2003, grup Reog Gogor Benua Etam tampil di halaman kantor Gebang Raja Bupati Kutai Kertanaegara meluncurkan kaset CD perjalanan menuju Festival Nasional Reog Ponorogo di Ponorogo yang juga menampilkan atraksi kesenian Kucingan.
Dalam permintaan penanggap, Kucingan tidak harus menggunakan bambu dan tali, melainkan juga menggunakan pohon setempat sehingga memunculkan kesan natural, karena pemain melakukan gerakan hewan kucing dan tikus.
Kesenian serupa yang mengadopsi seni Kucingan yaitu seperti 1
Lais di Garut,hanya saja pertunjukan pada lais tidak memakai topeng, hanya atraksi di atas bambu dan tali saja.
Kethek Ogleng di Pacitan, menampilkan atraksi tokoh kera putih yang menggunakan kostum hanoman yang melakukan atraksi di atas bambu dan tali.
Macanan di Lumajang dan Banyuwangi, Kucingan di Lumajang dan banyuwangi ini menampilkan barong yang berbentuk singo Barong yang dimainkan dua orang tanpa ada akrobatik bambu dan tali.
Kucingan di Banyuwangi, Kucingan di Banyuwangi ini menampilkan barong yang dimainkan oleh 1 orang saja, dengan bentuk topeng yang ditambahkan mahkota. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Kucingan”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Kucingan is acrobatic art from East Java, Indonesia, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2