Family unrecorded

Meron

Indonesia

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron.

No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Archival typographic plate · seeded for Meron+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to Meron

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
Asal-usul tradisi meronPati dan Mataram mempunyai hubungan kekerabatan yang baik.
Pranala luarThe text above is adapted from the Wikipedia article “Meron”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence.
Common Questions Answered on Record
What is Meron in plain words?

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati.

Where is Meron practised or documented?

Sources on this page place Meron in Indonesia.

What is the current condition of Meron today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this Meron entry?

Cite as: "Meron." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/meron, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

2 min read · 2 sources

Meron adalah tradisi memperingati kelahiran nabi Muhammad SAW juga berlangsung di kecamatan Sukolilo, 27 km arah selatan Pati. Upacara ini ditandai dengan arak-arakan nasi tumpeng yang menurut masyarakat setempat disebut Meron. Nasi tumpeng tersebut dibawa ke masjid Sukolilo sebagai kelengkapan upacara selamatan. Prosesi Meron tersebut diikuti oleh aneka ragam kesenian tradisional setempat. Setelah upacara selamatan selesai, nasi Meron kemudian dibagikan kepada seluruh pengunjung. 1

Asal-usul tradisi meron

Pati dan Mataram mempunyai hubungan kekerabatan yang baik. Mereka sepakat mengembangkan Islam yang subur dan menentang setiap pengaruh kekuasaan asing. Banyak pendekar sakti mataram yang didatangkan ke Pati untuk melatih keprajuritan. Karena itu mereka harus tinggal berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun di Pati. Ada seseorang bernama Ki Suta Kerta yang menjadi demang Sukolilo. Meskipun ayah dan kakeknya berasal dari Mataram dia belum pernah mengenal bumi leluhurnya. Tetapi dia bersukur tinggal di Pesantenan karena kotanya juga makmur. Sebaliknya saudara Ki Suta yang bernama Sura Kadam ingin berbakti pada Mataram. Diapun pergi ke Mataram, ketika sedang bersiap menghadap Sultan, ada keributan. Ada seekor gajah mengamuk dan telah menewaskan penggembalanya. Sura Kadam pun berusaha mengatasi keadaan. Dia berhasil menjinakkan gajah dan menunggaginya, dia diangkat menjadi penggawa Mataram yang bertugas mengurus gajah. Suatu hari Sura Kadam bertugas memimpin pasukan Mataram menaklukkan Kadipaten Pati. Setelah perang usai Sura Kadam pun menjenguk sudaranya di kademangan Sukalilo. Demang Sura Kerta terkejut dan ketakutan. Dia takut ditangkap dan diringkus. Sura Kadam mengetahui hal itu dan menjelaskan bahwa maksud kedatangannya adalah untuk menyambung tali persaudaraan dan dia sudah membaktikan diri pada Mataram. Dia minta izin supaya para prajurit diizinkan menginap di kademangan Sukolilo sambil menunggu saat yang tepat untuk kembali ke Mataram. Sura Kadampun mengusulkan supaya mengadakan acara semacam sekaten untuk menghormati Maulud Nabi dan memberi hiburan pada rakyat. Kemudian mereka membuat gelanggang keramaian seperti sekaten. Rakyat menyambutnya dengan gembira. 1

Pranala luar

[3] 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Meron”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

Meron is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Meron · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?
What does it look like? No licensed photograph yet.