The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesNasi boranan atau sego boranan, adalah makanan tradisional dan khas Lamongan, Jawa Timur. Kata Boranan ini berasal dari tempat Nasi (terbuat dari Anyaman Bambu) yang digendong dengan selendang pada punggung, Nasi boranan belum banyak dikenal di luar Lamongan karena memang hanya dijual di Lamongan. Khas nasi boranan yang tidak akan ditemui pada menu lainnya, yaitu empuk, pletuk, dan ikan sili. “Empuk ini dibuat dari tepung terigu yang dibumbui, pletuk terbuat dari nasi yang dikeringkan atau kacang, lalu dibumbui dan digoreng. Namanya diambil dari bunyi ketika makanan ini dikunyah, ‘pletuk, pletuk’. Nah, lauk ikan sili ini yang tak bisa ditemui setiap saat, karena termasuk ikan musiman. Ikan sili dulu lebih dikenal sebagai ikan hias, harganya lebih mahal dibanding daging ayam. Bentuk ikan ini panjang seperti belut, tidak kentara mana bagian kepala atau ekornya. Durinya pun hanya ada di bagian tengah. Nasi ini disajikan biasa dijajakan secara lesehan di sekitar kawasan pasar-pasar kota di Kabupaten Lamongan. 1
Asal-usul dan sejarah
Tradisi penjualan nasi boranan berawal dari para pedagang perempuan di wilayah Lamongan yang menjajakan nasi dan lauk pauk di wadah boran (sejenis tampah bundar dengan penutup anyaman). Mereka menjual dagangan secara berkeliling dari kampung ke kampung, sehingga dikenal dengan sebutan penjual boranan. 1
Komposisi dan penyajian
Nasi boranan terdiri dari: 1
nasi putih panas, bumbu, terdiri dari rempah-rempah yang sudah dihaluskan, lauk, seperti daging ayam, jeroan, ikan bandeng, telur dadar, telur asin, tahu, tempe hingga ikan sili, kremesan yang dibuat dari sisa bumbu gorengan lauk, dan rempeyek kacang (sejenis kerupuk bahan bakunya dari tepung beras yang dibumbui dan digoreng) sebagai pelengkap. Semua bahan disajikan di atas boran yang dilapisi daun pisang. Bumbu khas nasi boranan umumnya mengandung rempah seperti kemiri, ketumbar, kunyit, bawang merah, dan bawang putih, yang memberikan aroma gurih dan rasa khas Lamongan. 1
Makna budaya dan sosial
Bagi masyarakat Lamongan, nasi boranan bukan sekadar makanan, tetapi simbol kemandirian dan ketekunan perempuan pedagang tradisional. Pedagang boranan menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat Lamongan terutama di kawasan Babat dan kota Lamongan. Dalam konteks ekonomi lokal, keberadaan nasi boranan berperan penting dalam menjaga kearifan lokal kuliner serta meningkatkan pendapatan masyarakat kecil melalui kegiatan usaha mikro kuliner. 1
Warisan kuliner dan pengakuan
Nasi boranan telah diusulkan sebagai warisan budaya takbenda Indonesia dari Provinsi Jawa Timur. Pemerintah Kabupaten Lamongan juga aktif mempromosikan nasi boranan sebagai bagian dari citra "Lamongan Kota Soto dan Boranan". Festival dan lomba masak nasi boranan rutin diadakan dalam rangkaian Hari Jadi Lamongan (HARJALAM) 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Nasi boranan”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Nasi boranan is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2