Nasi tumpang adalah makanan khas daerah eks Kerajaan Mataram Islam yang terdiri atas nasi dengan kuah berupa sambal tumpang. Hidangan ini menyebar di daerah mataraman seperti jawa timur sebelah barat (Ngawi) dan jawa tengah sebelah timur (surakarta, sragen). Kuliner ini disajikan bersama aneka sayur rebus, biasanya dilengkapi sambal pecel dan rempeyek.
Sambal tumpang yang digunakan merupakan sambal yang dibuat dengan bahan baku tempe yang sudah basi (tempe bosok) dengan diberi bumbu-bumbu seperti bawang merah, bawang putih, cabai rawit, cabai merah, kemiri, kencur, daun jeruk purut, daun salam, laos, santan, dan tepung beras, dan dimasak dengan ayam serta kadang-kadang rambak (kulit sapi). Cara penyajiannya sama persis dengan nasi pecel yang sudah populer.
Nasi tumpang telah ada sejak zaman kerajaan Nusantara dan sudah tercatat sejak dua abad yang lalu. Hal ini terlihat dibuktikan dengan adanya bukti dari Serat Centini (1814-1823). Peninggalan tersebut menceritakan mengenai banyak tokoh masyarakat yang melakukan perjalanan mengelilingi desa-desa di daerah Jawa dengan masuk berbagai perkampungan pada zaman dahulu. Perjalanan tersebut dilakukan untuk mengumpulkan berbagai pengetahuan termasuk tentang kuliner. Sejak abad 9 Masehi, sambal pecel telah dikenal lebih awal di mana sambal pecel yang sekarang disajikan bersamaan dengan sambal tumpang.
Tidak semua tempe bisa digunakan untuk membuat nasi tumpang. 1
Lihat pula
Nasi uduk
Nasi gandul
Nasi becek 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Nasi tumpang”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
nasi tumpang is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2