The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Ngerangkau adalah tarian khusus yang diadakan untuk upacara Kwangkai, bermaksud untuk mengundang roh si mati untuk bersama-sama dengan keluarga bersuka ria. Suku Dayak Benuaq dan Suku Dayak Tunjung percaya bahwa tarian ini dapat mendatangkan roh yang meninggal. Tarian ini dibawakan oleh laki-laki maupun perempuan, tidak ada batasan jumlah penari dalam tarian ini. Dilaksanakan di rumah duka yang mengadakan upacara Kwangkai, Tari ini dilakukan pada malam hari sampai dini hari. 1
Pelaksanaan Tari Ngerangkau
Tarian Ngerangkau baru dilaksanakan jika penari sudah mendapat isyarat dari sang pawang. Saat tarian dilaksanakan sang pawang akan terus menerus membaca/bernyanyi yakni menceritakan riwayat hidup si mati. Kostum yang digunakan untuk laki-laki adalah pakaian sehari-hari dengan memakai kain cawat, rompi dan ikat kepala dari kain berwarna merah yang disebut kesapu. Pakaian wanita terdiri dari kain taah atau tapeh silak, kebaya lengan panjang dengan leher bundar dan ikat kepala berwarna merah pula 1
Sejarah Tari Ngerangkau
Tari Ngerangkau diciptakan sebagai bentuk penghormatan dan balas budi kepada arwah yang telah merawat dan memelihara keluarga dari bayi hingga dewasa. Selain itu, Ngerangkau juga memiliki makna sebagai kewajiban adat untuk memastikan arwah tidak tersesat dan memiliki bekal di surga. Tari ngerangkau ditarikan oleh keluarga yang meninggal baik pria maupun wanita serta semua undangan yang hadir di setiap malam setelah 40 hari kematian. Dalam menampilkan tari Ngerangkau tersebut, tidak ada persiapan dan latihan secara khusus karena gerak tari yang dilakukan bersifat spontanitas. Selain itu, para penari saat tampil menari diyakini sebagai arwah dari roh para leluhur. Untuk itu, bentuk dan kualitas pertunjukan dalam tarian bukan merupakan tujuan utamanya, tetapi fungsi dan kandungan makna dari tarian itu yang lebih utama. Setelah menari setiap malam, dihari keenam adalah hari pesagaq beluntakng atau pesagaq "batur mesatn" yakni upacara mengawinkan beluntang yang merupakan personifikasi perempuan. Dalam upacara ini dipergunakan bahasa sastra yang dilagukan yang disebut "ngakai". Dalam upacara, awalnya dikisahkan bahwa pihak perempuan menolak dengan berbagai alasan, namun akhirnya atas petunjuk ia mau kawin dengan laki-laki yang melamarnya. Maksud upacara perkawinan tersebut adalah melambangkan ada persesuaian pendapat agar selamat dalam melaksanakan upacara perkawinan. Uoacara ini hanya diberlakukan apabila pihak keluarga dalam upacara kenyau memotong kerbau. Hari ketujuh disebut hari "Kile Kelalungan". Pada upacara ini penyentangih atau penjembatan komunikasi antara roh yang sudah mati dengan yang masih hidup mengundang turun roh-roh yang berada pada tengkorak dan roh-roh ini tinggal di "Teliatn Tangkir Langit" yaitu nama tempat roh menurut kepercayaan mereka. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Ngerangkau”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Ngerangkau is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2