The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesNyadâr adalah upacara adat yang dilakukan oleh para petani garam di desa Pinggirpapas di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Tradisi ini dilakukan di sekitar komplek makam leluhur — disebut juga asta, yang oleh masyarakat setempat lebih dikenal dengan nama bujuk gubang. Dalam setahun, nyadâr dilakukan tiga kali berturut-turut dengan rentang waktu satu bulan berselang. Penyelenggaraan yang ketiga biasa mereka sebut dengan nyadâr bengko. Lokasi upacara adat tersebut berada di dusun Kolla, desa Kebundadap Barat yang terletak 13 km dari Kota Sumenep, ibu kota kabupaten. 1
Waktu
Penentuan waktu pelaksanaan Nyadar berdasar musyawarah para pemuka adat, yang masih merupakan keturunan dari leluhur Anggasuta. Jika dihubungkan dengan kalender Masehi, biasanya dilaksanakan sekitar bulan Juli, Agustus, dan September dan hari pelaksanaan selalu Jumat dan Sabtu. Ada beberapa syarat sehubungan dengan pelaksanaan Nyadar jika acara tersebut bertepatan di bulan Rabiul Awal/Maulid.Yang pertama, pelaksanaan upacara tidak diperkenankan diadakan sebelum tanggal 12 Maulid. Kedua, selamatan yang tidak boleh melebihi besarnya selamatan yang diadakan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Dan syarat yang lain adalah para peserta upacara Nyadar terlebih dahulu diwajibkan untuk merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW. Dari syarat tersebut selain mengindikasikan bahwa Nyadar tumbuh dan berkembang setelah Islam masuk. Selain itu juga mengimplikasikan bahwa penghormatan terhadap leluhur mereka tidak boleh melebihi penghormatan terhadap Rasulullah. 1
Tempat pelaksanaan
Nyadar pertama dan kedua dilakukan di Buju Gubang (makam Syeh Anggasuto, Syeh Kabasa, Syeh Dukun, dan Syeh Bangsa) yang ada di Desa Kebundadap Barat, pada Nyadar ketiga dilakukan di desa Pinggir Papas. Konon hal ini juga berangkat dari nadar Syeh Dukun, yang juga ingin melakukan syukur tetapi hanya di lingkungan rumahnya (dalam Bahasa Madura disebut bengko) atau di antara keluarganya sendiri. Namun ada yang khas dari pelekasanaan Nyadar ketiga ini. Di Nyadar ketiga ini, pada malam harinya biasanya diikuti dengan kesenian mocopat/mamaca pada pembacaan lontar. Dimana tulisannya masih menggunakan tulisan Jawa kuno dengan media daun lontar. Jalannya cerita dalam mocopat tersebut, yang pertama adalah Jatiswara. Cerita Jatiswara ini mengisahkan pengembaraan Jatiswara mencari saudaranya bernama Ki Sajati. Kemudian yang kedua ceritanya Sampurnaning Sembah. Yang kedua ini lebih mengisahkan jalannya bakti manusia kepada sang Pencipta, atau hal Syari’at Islam. Lontar Jatiswara adalah salah satu lontar bergenre santri lelana, sejenis dengan serat Centini. Lontar Jatiswara juga dibaca tiap 3 tahun sekali pada perayaan Mangayu-ayu di Desa Sembahlun Bumbung di Kaki Gunung Rinjani. Tampaknya ada hubungan antara orang Pinggirpapas dan orang Sasak. Hal ini perlu diteliti lebih lanjut. 1
Sejarah awal mula Nyadar
Mbah Anggasuto adalah salah satu tokoh masyarakat yang menyelamatkan prajurit kerjaan Bali yang terdesak ketika kalah perang melawan Pasukan Karaton Sumenep. Tidak jelas kerajaan Bali mana yang berperang dengan Sumenep, tetapi dipercaya kejadian ini berlangsung oafa pemerintahan Pangeran Lor dan Pangeran Timur di Sumenep. Asal Mbah Anggasuto juga kontroversial, ada yang mengisahkan beliai adalah Ulama pendatang dari Banten, beliai adalah Brawijaya V yang menyamar, bahkan ada yang menganggap beliau adalah panhlima pasukan Bali. Dikisahkan, pada suatu malam melakukan Istikharah. Memohon kepada Tuhan yang maha Esa, jika dia memang ditakdirkan hidup di daerah tersebut. Apa yang bisa dijadikannya sebagai sumber hidup atau mata pencaharian baginya. Sebab di daerah tersebut adalah daerah pesisir pantai. Yang bisa dibayangkan bagaimana kondisinya. Konon, Tuhan mengabulkan dan memberinya petunjuk. Pangeran Anggasuto semacam diminta untuk berjalan menuju pesisir pantai. Pada suatu waktu, Pangeran Anggasuto berjalan ke arah pantai. Karena tanah di pantai itu begitu lembek, hingga membentuk tapak kakinya. Selang waktu berjalan, bekas tapak kaki tersebut terisi oleh air laut. Beberapa hari kemudian, Anggasuto kembali berjalan ke arah pantai. Dia memperhatikan sesuatu di bekas tapak kakinya itu. Dijumpainya bekas tapak kaki itu dipenuhi oleh benda yang berwarna putih. Anggasuto sempat bertanya-tanya dalam hati. Apa gerangan benda putih tersebut? Adakah benda putih itu adalah madduna sagara (Madunya Samudra, red)? Akhir kata, benda itu kemudian oleh Pangeran Anggasuto disebut dengan Buja, yang merupakan istilah bahasa Madura untuk garam. Maka, hingga sekarang benda itu dikenal dengan nama buja atau garam. 1
Bibliografi
Aneka Ragam Kesenian Sumenep, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sumenep 2004 Panduan Wisata Kabupaten Sumenep 2011, Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kab. Sumenep 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Nyadâr”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Nyadar is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 2 external registers, which can be verified through the citation. 2