The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesPakaian Kulit Kayu atau Inodo bagi masyarakat Poso dan Napu/vuya bagi masyarakat Kaili dan Kulawi/buya bagi masyarakat Donggala/kuroko'o bagi masyarakat Bungku adalah salah satu kekayaan budaya Indonesia yang dipercaya telah ada ribuan tahun yang lalu. Nenek moyang bangsa Indonesia hidup berselaras dengan alam. Salah satu contohnya dapat dilihat dari terciptanya kulit kayu sebagai bahan pakaian. Hutan hujan tropis yang tumbuh subur di Kepulauan Nusantara menjadi sumber kehidupan masyarakat yang hidup di sekitarnya. Tidak hanya sebagai sumber pangan dan papan, pohon-pohon itu juga digunakan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan sandang. Pakaian kulit kayu bagi masyarakat tinggal di Sulawesi Tengah selain dipakai untuk menutupi tubuh juga digunakan dalam berbagai kegiatan upacara adat. Mereka mengenal berbagai jenis pakaian kulit kayu, di antaranya kemeja (baju laki-laki), Vevo (celana), Topi Nunu ( rok), halili (blus), hingga kumpe (semacam selimut). Ragam hias juga diaplikasikan ke dalam pakaian untuk menyimbolkan kegunaan dan arti tertentu. Contohnya adalah ragam hias tanduk kerbau yang menyimbolkan kehidupan. Menurut Antonius Taula, pelestari kain kulit kayu, kerbau tidak lepas dari kehidupan manusia dari proses kelahiran hingga kematian. Ragam hias yang dikenal lainnya seperti tumpal, tumbuh-tumbuhan, manusia, gampiri, bunga, geometris dan lain-lain. Ricky FS. 1
Bahan Baku dan Alat Pembuatan
Masyarakat Sulawesi Tengah setidaknya mengenal enam jenis pohon yang dapat digunakan sebagai bahan baku. Pertama, pohon beringin putih atau yang dikenal masyarakat lokal sebagai Nunu Towula. Pohon ini mempunyai kualitas terbaik dalam pembuatan bahan baku. Kedua, pohon beringin biasa atau Nunu Lero. Pohon ini pohon yang biasa ditanami di halaman rumah masyarakat Kulawi. Ketiga, pohon Nunu Wiroe yang mempunyai karakteristik memiliki kulit tebal pada bulan muda tetapi kulitnya semakin menipis seiring bulan menua. Keempat, Nunu Tea Tonohera yang juga termasuk dalam pohon beringin namun menyerupai pohon sukun. Pohon ini sulit ditemukan sehingga jarang dijadikan bahan baku. Kelima, pohon Nunu Malo/Mao yang masih berjenis beringin tetapi menghasilkan kain kulit kayu yang berwarna putih. Keenam, pohon Nunu Ivo yang paling banyak digunakan dalam pembuatan kain kulit kayu. Bahan pewarnaan kain kulit kayu masyarakat Sulawesi Tengah juga berasal dari alam. Ada tiga bahan pewarna alami yang sudah digunakan. Pertama adalah pohon Ula Vua yang digunakan untuk menghasilkan warna merah muda, pencerah warna, dan pengawet pakaian. Kedua adalah lumpur yang dapat menghasilkan warna hitam dan coklat. Ketiga adalah letuhu yang dapat menghasilkan warna cokelat kemerah-merahan. Getah pohon Langsat dan rumput munte masing-masing berguna untuk menjaga warna tidak luntur dan menghasilkan aroma harum. Bahan lainnya yang menunjang proses pembuatan kain ialah abu dapur/abu gosok dan air. Abu dapur memiliki tiga fungsi utama ialah mempercepat proses pembusukan, mematikan bakteri dan menghilangkan bau. Sedangkan, Air berfungsi untuk melembapkan kulit kayu. Perkakas yang digunakan dalam proses pengolahan sangat beragam. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Pakaian kulit kayu”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Pakaian kulit kayu is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2