Family unrecorded

pedis panas

Indonesia

Pedis Panas adalah salah satu makanan khas suku sasak Lombok. kata pedis memiliki arti asam atau kecut, sedangkan kata panas memiliki arti pedas. Pedis panas memiliki rasanya yang khas yaitu kombinasi antara rasa pedas dan asam.

pedis panas 3
Photo: Saharanisofina13 · CC BY-SA 4.0+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to pedis panas

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Pedis Panas adalah salah satu makanan khas suku sasak Lombok.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
Bahan-bahanCabai rawit sesuai selera, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, garam, gula, micin atau penyedap, asam jawa.
Cara membuatBumbu yang dihaluskan seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, gula, garam dan micin atau penyedap.
Common Questions Answered on Record
What is pedis panas in plain words?

Pedis Panas adalah salah satu makanan khas suku sasak Lombok.

Where is pedis panas practised or documented?

Sources on this page place pedis panas in Indonesia.

What is the current condition of pedis panas today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this pedis panas entry?

Cite as: "pedis panas." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/pedis-panas, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

2 min read · 2 sources

Pedis Panas adalah salah satu makanan khas suku sasak Lombok. kata pedis memiliki arti asam atau kecut, sedangkan kata panas memiliki arti pedas. Pedis panas memiliki rasanya yang khas yaitu kombinasi antara rasa pedas dan asam. Sayur ini memiliki bahan yang beragam dan unik. Sama seperti didaerah lain, sayur asam khas Lombok ini memiliki isian dan bahan yang hampir sama, yang membedakan adalah pada sayur pedis panas ini tidak menggunakan daun atau biji melinjo. Perbedaan itulah yang membuat rasa dari pedis panas ini semakin khas. 1

Bahan-bahan

Cabai rawit sesuai selera, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, garam, gula, micin atau penyedap, asam jawa. Untuk bahan-bahan isian menggunakan terong, biji-bijian, kangkung, kecipir, dan bahan lain yang dapat disesuaikan. Sebagai bahan pelengkap dapat menggunakan kemangi, dan minyak sayur. 1

Cara membuat

Bumbu yang dihaluskan seperti cabai rawit, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi, gula, garam dan micin atau penyedap. Setelah itu, wadah yang berisi air, dapat dipanaskan sampai mendidih. Ketika air sudah mendidih masukkan sayur-sayur seperti kacang panjang, terong, kacang, biji-bijian, dan lain sebagainya sesuai dengan selera. Setelah sayur-sayur sudah setengah matang bumbu yang sudah dihaluskan tadi,dimasukkan ke dalam panci lalu ditambahkan sedikit air perasan asam jawa yang sudah matang dan satu sendok minyak sayur. Sayur dapat dimasak hingga hingga mendidih, dan sebagai sentuhan terakhir dapat dimasukkan daun kemangi. Pedis panas khas suku sasak Lombok siap dinikmati. 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Pedis panas”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

pedis panas is traditional food of Sasaknese, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Pedis panas · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?