Pindang tetel (bahasa Jawa: ꦥꦶꦤ꧀ꦝꦁꦠꦺꦠꦺꦭ꧀, translit. Pindhang tètèl) adalah makanan khas pekalongan yang berasal dari desa Ambokembang, Kedungwuni, Pekalongan.
No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Pindang tetel (bahasa Jawa: ꦥꦶꦤ꧀ꦝꦁꦠꦺꦠꦺꦭ꧀, translit. Pindhang tètèl) adalah makanan khas pekalongan yang berasal dari desa Ambokembang, Kedungwuni, Pekalongan. Meskipun bernama pindang tetel, masakan ini lebih mirip rawon dan dibuat dari tetelan daging iga sapi, bukan ikan pindang.
Pindang tetel merupakan sayur berkuah berisi tetelan daging sapi dan irisan daun bawang dengan bumbu pindang dicampur kluwek sehingga menyerupai rawon. Masakan ini disajikan dengan kerupuk merah dan kuning yang digoreng dengan pasir. Pindang tetel tidak cocok disajikan dengan kerupuk yang digoreng dengan minyak karena merusak cita rasanya. 1
Sejarah
Pada mulanya, masyarakat Ambokembang hendak memanfaatkan hasil bumi kluwek dari daerah mereka. Saat mereka memadukan kluwek dengan tempe dan tahu, rasa masakan yang dihasilnya kurang enak. Akhirnya mereka menggunakan daging sapi dan ternyata rasanya enak, terutama bila daging sapi dipotong kecil-kecil (bahasa Jawa: ditetel-tetel). Selanjutnya, masyarakat Ambokembang menyebutnya Pindang Tetel. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Pindang tetel”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Pindang tetel is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2