Tari Baris Kekupu berasal dari Desa Sumerta Kaja, Banjar Lebah, Denpasar. Tarian ini terinspirasi dari filosofi hiasan kupu-kupu pada damar kurung, yaitu semacam lampion yang digantung di depan rumah warga yang sedang melaksanakan rangkaian upacara Ngaben. Damar Kurung memiliki makna simbolis sebagai pengingat dan penyadar bagi roh atau jiwa seseorang yang sedang diupacarai agar mampu melepaskan diri dari ikatan duniawi dan akhirnya dapat bersatu kembali dengan Tuhan. Sementara itu, Tari Baris Kekupu dipercaya sebagai pengantar perjalanan roh yang telah terbebas dari unsur Panca Maha Bhuta menuju Swah Loka (alam surgawi).
Tarian ini menggambarkan sekumpulan kupu-kupu yang menari dan bermain di taman bunga dengan gerakan yang lembut, lincah, serta dinamis, menonjolkan keindahan warna-warni sayap mereka. Di Bali sendiri terdapat berbagai jenis Tari Baris, yang penamaannya disesuaikan dengan properti dan kostum yang digunakan saat pementasan. Pada awalnya, Baris Kekupu menggunakan properti kipas dan gelungan legong yang sederhana. Namun, seiring perkembangan zaman dan proses rekonstruksi, kostumnya mengalami perubahan. Kini para penari Baris Kekupu mengenakan selendang-selendang (awir) berwarna cerah, sayap kupu-kupu, serta gelungan legong, sehingga memberikan ciri khas tersendiri yang membedakannya dari jenis Tari Baris lainnya di Bali.
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Baris Kekupu”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence.
Tari Baris Kekupu is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 1