Pertunjukan Barong paling menonjol di antara beragam seni pertunjukan Bali yang berhasil dikemas sebagai daya tarik wisata. Bagi masyarakat Bali, Barong dipandang sebagai simbol kebaikan karena berkaitan erat dengan ritual keagamaan dan berfungsi sebagai sarana pengeruwatan atau penyucian alam. Kekuatan magis Barong diyakini terletak pada bagian kepala (punggalan), terutama pada unsur mata, gigi, dan bulu janggut, yang dipercaya memiliki nilai spiritual dan perlindungan bagi masyarakat.
Masyarakat Bali percaya Barong sebagai figur pelindung desa yang diyakini memiliki kekuatan gaib dan karena itu dikeramatkan, Barong juga berkembang sebagai seni pertunjukan yang populer di Bali. Dalam konteks pertunjukan, Barong biasanya ditarikan oleh dua penari laki-laki. Wujud Barong merepresentasikan berbagai binatang mitologis, antara lain Barong Singa atau Macan, Barong Bangkal (babi hutan), Barong Gajah, Barong Asu (anjing), Barong Lembu (sapi), serta Barong Banaspatiraja yang melambangkan raja hutan.
Selain bentuk-bentuk tersebut, masyarakat Bali juga mengenal Barong Landung, yang terdiri atas Jero Gede atau Lanang (laki-laki) dan Jero Luh (perempuan), yang memiliki kemiripan dengan ondel-ondel di Jakarta. Terdapat pula Barong Dedengkling yang menggambarkan berbagai wujud wanara atau binatang hutan. Di antara beragam jenis Barong yang hidup dan berkembang di Bali, Barong Banaspatiraja merupakan bentuk seni balih-balihan atau tontonan yang banyak dikemas sebagai atraksi wisata.
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Barong Landung”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence.
Tari Barong Landung is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 1