Tari Burung Kuau adalah sebuah tarian yang terinspirasi dari tarian kawin burung kuau, baik sebagai ritual alam maupun sebagai bagian dari seni tradisional suku Dayak di pulau Kalimantan.
No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Tari Burung Kuau adalah sebuah tarian yang terinspirasi dari tarian kawin burung kuau, baik sebagai ritual alam maupun sebagai bagian dari seni tradisional suku Dayak di pulau Kalimantan.
01 · What it is
Living Tradition
Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.
02 · Where & name
Geography awaiting source
Add a cited source naming the region or community that carries it.
03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)
Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.
04 · Proof & reuse
2 cited sources
Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.
Chapter Takeaways
Burung KuauBurung kuau atau Argusianus argus adalah satwa khas hutan hujan Asia Tenggara yang mendiami Kalimantan, Sumatra, Thailand dan Semenanjung Malaysia.
Cerita Tentang Burung KuauTari Burung Kuau menceritakan kepedihan hati seorang anak yang selalu dikekang oleh ibunya, sehingga ia selalu berdoa kepada Tuhan agar ditumbuhkan sayap supaya bisa terbang bebas dan tidak lagi terkekang oleh ibunya.
Common Questions Answered on Record
What is Tari Burung Kuau in plain words?
Tari Burung Kuau adalah sebuah tarian yang terinspirasi dari tarian kawin burung kuau, baik sebagai ritual alam maupun sebagai bagian dari seni tradisional suku Dayak di pulau Kalimantan.
Where is Tari Burung Kuau practised or documented?
No verified geographic place has been linked on record yet — editors can add a cited place from the edit page.
What is the current condition of Tari Burung Kuau today?
□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.
How do I cite or share this Tari Burung Kuau entry?
Cite as: "Tari Burung Kuau." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/tari-burung-kuau, text CC BY-SA, with attribution.
Tari Burung Kuau adalah sebuah tarian yang terinspirasi dari tarian kawin burung kuau, baik sebagai ritual alam maupun sebagai bagian dari seni tradisional suku Dayak di pulau Kalimantan. Tarian ini melambangkan harmoni antara manusia dan alam, keagungan, dan kesucian. Selain itu, tarian ini juga dapat menceritakan kisah seperti legenda dari Desa Langkan yang menceritakan kesedihan anak yang kemudian berubah menjadi burung kuau. 1
Burung Kuau
Burung kuau atau Argusianus argus adalah satwa khas hutan hujan Asia Tenggara yang mendiami Kalimantan, Sumatra, Thailand dan Semenanjung Malaysia. Penampilannya yang megah membuatnya dijuluki 'merak rimba', tetapi sifat pemalunya justru menjadikannya sulit dijumpai. Sebagai salah satu burung tercantik, kuau juga dikenal sebagai penari hutan. Sebelum menarik perhatian betina, pejantan akan membersihkan lantai hutan dan menari sambil mengembangkan ekornya yang panjang menyerupai merak.
Selain menari, suara khas kuau yang keras juga menjadi penanda keberadaannya di hutan. Kuau jantan menggunakan suara lantang untuk menandai wilayah teritori mereka. Bagi masyarakat Dayak, tarian burung kuau memiliki nilai budaya tinggi dan menjadi inspirasi tarian tradisional yang menggambarkan keindahan dan harmoni alam. Bulu kuau pun kerap digunakan sebagai ornamen adat dalam upacara atau pakaian pembesar adat. Namun bulu kuau yang boleh digunakan hanya bulu yang rontok saja karena secara hukum adat Burung Kuau dilindungi. 1
Cerita Tentang Burung Kuau
Tari Burung Kuau menceritakan kepedihan hati seorang anak yang selalu dikekang oleh ibunya, sehingga ia selalu berdoa kepada Tuhan agar ditumbuhkan sayap supaya bisa terbang bebas dan tidak lagi terkekang oleh ibunya. Kesedihannya memuncak saat musim panen tebu tiba ketika ia terus meminta kepada ibunya agar dibawakan sebatang tebu dari kebun, tetapi sampai akhir musim panen tersebut yang ia dapat hanyalah sebatang tebu busuk. Dalam tidurnya ia bermimpi bertemu dengan almarhum ayahnya, dan ayahnya berpesan kepadanya supaya bertembang: “Tebu sebatang umak sayang Anak sekok umak tak sayang Anak sekok jadi burong Burung Kuaw di fajar hari.” Dia pun terus bertembang sampai berubah menjadi burung kuau atau merak kerdil (Polyplecton malacense schetermacheri Bruggemann) dan pergi meninggalkan ibunya, hingga sekarang suara burung kuau dapat didengar di fajar hari. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Burung Kuau”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Burung Kuau is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2