The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesTari Dames adalah salah satu kesenian tari tradisional yang berasal dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Tarian ini merupakan bentuk ekspresi budaya rakyat yang hidup dan berkembang di kalangan masyarakat pedesaan, khususnya sebagai bagian dari hiburan rakyat dalam berbagai acara adat dan hajatan. Tari Dames menggabungkan unsur gerak yang dinamis dengan iringan musik tradisional, serta kerap disertai dengan penampilan lisan seperti tembang dan dialog jenaka, menjadikannya pertunjukan yang atraktif dan komunikatif. Keunikan tarian ini membuatnya tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media komunikasi sosial dan pelestarian nilai-nilai budaya lokal. 1
Sejarah dan perkembangan
Tari Dames merupakan salah satu bentuk seni pertunjukan tradisional yang memiliki akar kuat dalam dakwah Islam di Nusantara, khususnya di wilayah Jawa Tengah. Kesenian ini dipercaya telah berkembang sejak masa penyebaran Islam pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, atau masa para wali. Menurut cerita lisan dari para leluhur di wilayah Kabupaten Purbalingga, Tari Dames awalnya merupakan bagian dari seni syiar agama yang diwujudkan dalam bentuk shalawatan atau pembacaan syair-syair pujian kepada Nabi Muhammad dengan iringan musik tradisional. Musik yang digunakan berasal dari kitab Perjanjen, dengan perangkat utama berupa alat musik terbang atau rebana, mencerminkan nafas Islam yang kuat dalam pertunjukannya. Pada masa awal kemunculannya, Tari Dames tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana pendidikan spiritual yang menyampaikan ajaran Islam secara halus melalui gerakan dan syair Islami. Gerakannya ritmis, lembut, dan mengalun selaras dengan iringan lagu-lagu bernuansa religius. Tradisi ini awalnya berkembang di wilayah Banjarnegara dan kemudian menyebar ke beberapa kecamatan di Kabupaten Purbalingga, seperti Kemangkon dan Padamara. Selama beberapa dekade, kesenian ini sempat mengalami kemunduran akibat regenerasi yang tidak berjalan lancar dan menurunnya minat generasi muda. Tari Dames bahkan sempat hilang dari panggung seni pertunjukan rakyat. Kebangkitan kembali Tari Dames terjadi pada dekade 1980-an, meskipun dalam bentuk penyajian yang telah mengalami sejumlah perubahan. Beberapa komunitas seni di Purbalingga mulai menghidupkan kembali tradisi ini, meski hanya dilakukan di tingkat desa dan dalam lingkup yang terbatas. Prosesi pertunjukan Tari Dames pun masih mempertahankan nilai-nilai spiritual. 1
Ciri khas
Tari Dames, yang juga dikenal dengan sebutan aplàng, merupakan kesenian tradisional dari Purbalingga yang memiliki kekhasan tersendiri, baik dari segi bentuk pertunjukan maupun muatan nilai yang dikandungnya. Kesenian ini menggabungkan unsur teater rakyat, tari, musik, dan narasi lisan yang disampaikan secara spontan. Tidak seperti teater modern yang cenderung bergantung pada naskah tertulis dan struktur dramaturgi yang kaku, Dames bersifat improvisasional dan dinamis. Alur cerita, gerakan tari, hingga dialog disusun secara organik berdasarkan narasi yang hidup di tengah masyarakat, menjadikan pertunjukan terasa akrab dan mudah diterima oleh berbagai kalangan. Dalam pementasannya, Dames menyajikan cerita-cerita yang bersumber dari legenda lokal, kisah perjuangan masyarakat, hingga kritik sosial yang dikemas dengan gaya humor khas. Dialog antar tokoh dalam pementasan sering kali diselingi dengan celetukan lucu, petuah moral, dan satire yang menyentil realitas sosial. Hal ini membuat Dames tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai sarana penyampaian pesan etis dan pendidikan karakter secara halus. Nilai-nilai seperti kejujuran, kerja keras, ketekunan, hingga pentingnya semangat gotong royong menjadi bagian penting dari muatan cerita dalam pertunjukan ini. Unsur musik dalam Tari Dames juga menjadi ciri yang menonjol. Iringan musik tradisional seperti kendang, gong, seruling bambu, dan kadang rebab, mengiringi pertunjukan secara menyatu dengan alur cerita. Musik tidak hanya berfungsi sebagai latar belakang, melainkan menjadi elemen ekspresif yang memperkuat suasana emosional, mendukung ritme penceritaan, dan menegaskan perubahan adegan. 1
Tantangan
Modernisasi dan perubahan gaya hidup turut memengaruhi eksistensi Tari Dames di masa kini. Banyak generasi muda lebih tertarik pada hiburan digital, sementara seni tradisional seperti Dames mulai terpinggirkan. Tari Dames bukan sekadar hiburan, melainkan juga media penyampaian nilai-nilai Islam dan pelestarian identitas budaya lokal. Kondisi ini diperparah dengan kurangnya upaya pelestarian seni-seni tradisional Islam seperti Dames. Banyak seniman harus berjuang secara mandiri untuk menjaga agar tradisi ini tidak punah. Salah satunya adalah Paguyuban Seni Daeng "Tri Budoyo Sekar Arum" yang aktif menggelar pertunjukan di tingkat desa dan memanfaatkan platform digital seperti YouTube untuk memperkenalkan Dames ke khalayak yang lebih luas. Upaya-upaya ini menjadi harapan untuk menjaga kelangsungan Tari Dames sebagai warisan budaya yang kaya akan nilai-nilai spiritual dan kearifan lokal. Meskipun demikian, Tari Dames telah ditetapkan sebagai bagian dari Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia pada tahun 2023. Penetapan ini merupakan langkah penting dalam pelestarian kesenian tradisional yang memiliki nilai sejarah dan sosial tinggi. Status ini mendorong dokumentasi dan pengembangan Tari Dames agar tetap dikenal dan dilestarikan oleh generasi muda. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Dames”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Dames is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2