The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Kataga merupakan tari perang tradisional masyarakat Provinsi Nusa Tenggara Timur. Istilah kataga diperoleh dari kata taga yang dalam bahasa Anakalang berarti 'memotong' atau 'memancung', hal ini merujuk pada cerita pemancungan kepala musuh dalam perang antar suku di masa lalu. 1
Sejarah
Berdasarkan cerita lisan dari tetua adat Suku Anakalang, Kecamatan Katikuna, Sumba Barat, tarian ini ditampilkan sebagai ungkapan rasa syukur ketika menang dalam peperangan. Dalam perjanjian perang dinyatakan bahwa pihak yang menang dapat memenggal kepala lawannya untuk dibawa dan disimpan pada balai tempat pelaksanaan upacara. Seiring perkembangannya hingga sekitar 1960-an, fungsi dari tarian ini semakin beragam, termasuk untuk pemanggilan sesuatu yang hilang dalam upacara marapu dan pemberian kutukan untuk pelaku kejahatan. Fungsi tarian ini kemudian kian berubah yakni sebagai bentuk hiburan dalam acara penyambutan tamu, syukuran rumah baru, pesta panen, pernikahan, perayaan hari raya nasional, maupun acara seni lainnya. 1
Penari
Pertunjukan tari Kataga ditampilkan oleh sekelompok pria. Jumlah penari minimum adalah 6 orang. Adapun, jumlah penari terbanyak dapat berkisar 8 atau 12 orang tergantung lokasi pertunjukan. Hingga akhir tahun 1970-an, tarian Kataga hanya dapat ditampilkan oleh masyarakat Sumba Barat. Namun, dalam perkembangannya, tidak lagi ada batasan terkait asal daerah penari. 1
Busana dan aksesoris
Penari mengenakan busana tradisional berupa kain panggiling atau borunggusebatas paha yang dilengkapi dengan ikat pinggang berbahan kulit hewan, tali atau kain. Sebagai pelengkap tampilan, penari menggunakan hiasan kepala berupa ikat kepala (rowa atau destar) dari kain hitam kerucut yang dililitkan dengan kain merah dan kuning. Pada ikat kepala ini kemudian diselipkan pula rangkaian bulu kuda. Sebagai hiasan kaki, penari memasangkan gelang kaki (langgoru atau giring-giring) dari bulu-bulu kuda dan lonceng pada pergelangan kakinya. Penampilan tari ini oleh Masyarakat Wanokaka turut dielngkapi dengan kaheli wihi yang diikatkan pada lutut sebagai bentuk perlindungan dari serangan lawan. 1
Properti
Pada penampilan tari kataga, penari turut membawa atribut senjata seperti parang atau pedang serta tameng atau perisai. 1
Ragam gerak
Tari Kataga menampilkan gerakan yang merepresentasikan suasana pertempuran, dengan karakter kokoh dan penuh energi. Gerakannya meliputi ayunan senjata, lompatan kaki, gerakan menghindar, serta penggunaan perisai untuk menangkis. Pada tarian ini terdapat beberapa ragam gerak utama dengan fungsi masing-masing yang dinamai dengan istilah setempat. Pertama, Kataga Negu/Neogo menjadi langkah pembuka dengan hentakan kaki bergantian dan ayunan parang ke berbagai arah.Tada Tana menjadi simbol pantang menyerah melalui hentakan kaki ke tanah.Nggapi Toda menjadi gerak perlindungan dengan perisai dirapatkan ke tubuh. Lihu Kahudi adalah persiapan menyerang dengan gerakan mencabut senjata dan mengintip musuh. Kayaka berupa teriakan yang menjadi penanda kemenangan. Selain itu, tercatat pula beberapa gerakan lain, seperti Kataga Horung yang berupa kombinasi gerakan menyerang dan bertahan, dalam ritme satu dan setengah hitungan; Kataga Pitak yakni gerakan serupa lompat tegak untuk persiapan menyerang; Kataga Negu berupa gerakan membungkuk sambil mengayunkan parang dan berteriak. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Kataga”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Kataga is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2