The tradition & historical record
2 min read · 2 sourcesTari Ledo Hawu adalah tari perang khas Suku Sabu yang berasal dari pulau Sabu, Nusa Tenggara Timur. Istilah Ledo Hawu berasal dari kata Ledo yang berarti “tari” dan Hawu yang menunjuk pada Pulau Sabu. Masyarakat asli pulau ini disebut do Hawu. Oleh karena itu, Ledo Hawu sebenarnya bernama Ledo do Hawu, yang berarti “tarian orang Sabu”. 1
Sejarah
Berdasarkan cerita lisan yang diturunkan oleh para tetua adat, awal mula Tari Ledo Hawu diketahui oleh masyarakat Desa Pedaro, Kecamatan Sabu Barat, Kupang. Asal tarian ini dikatakan berkaitan dengan kisah turunnya anak Doheleo dari langit. Anak tersebut lantas terbunuh oleh Jira Dohe. Kejadian tersebut kemudian mendorong dilangsungkannya upacara adat bernama Tao Leo Dappi, yang disertai dengan tarian Ledo. Dalam perkembangannya tarian ini mulai ditampilkan di kampung-kampung adat lain seperti Seba, Timu, Liae, dan Mahara. Tari Ledo Hawu juga dikaitkan dengan kepercayaan masyarakat setempat dahulu untuk melakukan upacara apabila ada seseorang yang berjumpa dengan binatang laut, sejenis cumi-cumi, bernama Kaehuti. Upacara ini dianggap perlu dilakukan untuk menghindari penyakit. Upacara tersebut diwujudkan dengan menarikan Ledo, diiringi instrumen pukul wokeke (buah lontar kering) sebagai gong serta haik pecah ataupun haba wobhari yang sebagai gendang. Tradisi ini dilangsungkan oleh masyarakat Mahara dalam upacara adat Todaka sebagai bentuk penolak bala. 1
Fungsi
Pementasan tari Ledo Hawu diselenggarakan ketika para ksatria hendak maju ke medan perang yang umumnya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga yang lain dengan dorongan perebutan daerah kekuasaan. Seiring perkembangannya, tarian ini ditampilan dalam acara yang lebih beragam termasuk upacara kematian, dan penyambutan tamu. 1
Penari
Tari Ledo Hawu pada dasarnya ditampilkan berpasangan oleh pria dari keluarga ksatria dan gadis-gadis yang menari sebagai ungkapan perpisahan ke medan perang. Awalnya, pertunjukan tari ini membutuhkan sekurang-kurangnya lima pasangan. Namun, seiring perkembangannya jumlah penari minimal berkurang menjadi 3 pasangan dan maksimal 5 pasangan. 1
Busana
Pada pertunjukan tari Ledo Hawu, penari pria mengenakan busana berupa kain selimut yang dikenal sebagai kain higi-huri. Sementara itu, gadis-gadis penari mengenakan kain selimut dengan nama berbeda (kain ei hawu) yang dilengkapi dengan pedi (sejenis ikat pinggang). 1
Aksesoris
Penampilan penari pria disertai dengan hiasan kepala berupa destar (sejenis ikat kepala) serta hiasan kaki berupa giring-giring (dere) yang ditalikan. Kepala penari wanita dihiasi dengan mayang kelapa dan aksesoris lainnya. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Ledo Hawu”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Ledo Hawu is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2