The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Mbuah Page adalah salah satu tarian ciri khas desa Perbesi ketika Merdang-merdem. Tari ini biasanya ditampilkan di pesta rakyat pasca panen, disebut Merdang-merdem, yang diadakan setahun sekali ataupun di festival kebudayaan. 1
Etimologi
Kata Mbuah Page berasal dari Bahasa Karo yaitu 'mbuah' yang artinya berbuah lebat, rimbun, dan buah yang bagus, sedangkan 'page' berarti padi. 1
Cerita
Cerita di balik Tari Mbuah Page berkaitan dengan hubungan orang Karo zaman dahulu dengan Dewi Padi, yaitu Beru Dayang Jile-jile, yang dipercaya sebagai pembawa padi kepada mereka. Kisahnya menceritakan bahwa Beru Dayang Jile-jile turun ke bumi untuk memberikan pengetahuan kepada orang Karo tentang cara menanam padi dan menjadikannya sebagai makanan pokok, agar mereka tidak lagi hidup dengan mencari buah-buahan di hutan. Namun, karena kesombongan, orang Karo sering melakukan kesalahan dengan merusak makanannya sendiri, yang akhirnya merugikan diri mereka. Meski begitu, Beru Dayang Jile-jile tetap sabar dan memberi kesempatan kepada orang Karo untuk belajar dari kesalahan tersebut. Ia berpesan agar orang Karo selalu menghargai pengetahuan yang diberikan, menghormati padi sebagai makanan pokok yang memungkinkan mereka bertahan hidup, serta hidup saling tolong-menolong dan bergotong royong di antara sesama. 1
Makna
Tari ini memiliki makna gotong royong yang terlihat dari gerakan tariannya. Gerakan tari yang saling berhubungan satu sama lain menggambarkan makna gotong royong tersebut. 1
Fungsi
Tari Mbuah Page dilakukan oleh masyarakat Suku Karo sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas panen yang melimpah. Mereka juga berdoa agar Tuhan terus memberkati pertanian mereka, sehingga terhindar dari hama dan bencana di tahun depan. 1
Gerakan
Gerakan tubuh penari dalam tarian ini secara berurutan menggambarkan proses penanaman padi, mulai dari menanam, menyiangi, hingga memanennya. Gerakan pertama adalah mencangkul di ladang, yang melambangkan proses awal menggemburkan tanah sebelum ditanami. Dalam gerakan ini, penari seolah-olah membawa cangkul. Kedua tangan dikepal dan diayun ke arah kanan atas serta ke bawah secara bergantian dengan gerakan yang lambat. Tubuh penari sedikit dibungkukkan. Kedua kaki diayun bergantian sambil berpindah tempat perlahan dengan pasangan di depannya, kemudian kembali ke posisi awal. Gerakan selanjutnya yaitu gerakan melubangi tanah. Pada gerakan ini, kaki si penari sedikit ditekankan ke lantai. Gerakan ini biasanya dilakukan dengan cara berpasangan. Lalu, dilanjut dengan gerakan memanen padi yang dilakukan oleh seluruh penari, yaitu dengan gerakan tangan kiri menggenggam padi dan tangan kanan menggenggam arit. Selain itu, ada gerakan Narsari, yaitu memisahkan padidarisisa-sisa jerami. Dimana para penari mengambil posisi berlutut, dengan jarak yang tidak terlalu jauh, sambil mengayunkantangan ke atas dan ke bawah secara bergantian. Selanjutnya, seluruh penari memegang mangkok putih yang berisi beras untuk sesajen kepada Beru Dayang Jile-jile. Lalu, para penari membentuk lingkaran yang merupakan bentuk musyawarah yang dilakukan oleh penduduk desa untuk mengadakan perayaan sebagai ungkapan rasa syukur atas panen yang melimpah. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Mbuah Page”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Mbuah Page is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2