The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesTari Moriringgo atau Tari Riringgo adalah tari rakyat asal Sulawesi Selatan yang sejak dahulu sampai sekarang dilestarikan oleh suku Padoe. Tarian syukuran ini sering dilaksanakan setelah selesai melaksanakan padungku (panen). Arti kata moriringgo merupakan "rintangan". Selain pada acara syukuran karena panen yang berhasil, juga dilaksanakn pada acara syukuran menyambut Pongkiari yang pulang berperang dan menang, serta acara syukuran menyambut Saliwu waktu pulang dari Palopo menebang pohon Langkanae. 1
Asal-usul
Suku Padoe adalah suku yang berdiam di Kabupaten Luwu Timur Provinsi Sulawesi Selatan. Suku Padoe tersebar di Kecamatan Wasuponda, Towuti, Mangkutana, dan Nuha. Mereka banyak terdapat di daerah pegunungan dan lembah di Luwu Timur. Populasi Suku Padoe diperkirakan sekitar 18.000 orang. Suku Padoe mendiami daerah ini diperkirakan sejak abad ke XIV yang bermigrasi dari daearah Sulawesi Tengah. Dalam bahasa setempat istilah “Padoe” berarti “orang jauh”. Di Luwu Timur mereka menjadi bagian dari dua belas anak suku di bawah pemerintahan kedatuan Luwu. Dari cerita rakyat, Suku Padoe ini berasal dari suku Lili To Padoe Bangkano Kalende, yang terbagi menjadi empat suku yaitu Padoe, Lasaelawali, Kinadu dan Konde. Pada era pemberontakan DI/TII Abdul Kahar Muzakkar, banyak orang Padoe yang kembali ke tanah nenek moyang mereka di Sulawesi Tengah seperti Beteleme, Poso, Taliwan, Parigi, dan lain-lain. Suku Padoe menganut agama kepercayaan Melahomua sebuah aliran kepercayaan yang meyakini kekuatan alam, pohon, yang dianggap keramat, gunung, bukit hingga hal-hal kecil lainnya. Pada tahun 1920-an ketika misionaris Kristen datang beberapa di antara Suku Padoe kemudian memeluk agama Kristen. Dalam melaksanakan tarian ini, agar memberikan kemeriahanpesta panen biasanya dipersiapkan tidak kurang dari 1000 bambu pewong disiapkan untuk dikonsumsi bersama sambil menikmati suguhan Moriringgo, tarian adat suku Padoe biasanya dibawakan oleh anak-anak muda di daerah setempat. 1
Perkembangan
Pada abad ke 14 ketika kedatuan Luwu mencapai kejayaannya Mokole Matano bergabung dengan kedatuan Luwu. Dari tempat ini Luwu menyebarkan kemahsyurannya terutama di Jawa lantaran kualitas besi yang mengandung nikel hasil peleburan di Danau Matano, di luar Luwu, Matano lebih dikenal sebagai Rahampu’u atau rumah pertama di pesisir Matano sekaligus menjadi penghuni pertamanya. Peleburan besi di Matano dilakukan dengan cara sederhana, tungkunya dari tanah, pipanya dari bambu, sementara tuasnya dari bahan kayu yang dilapisi bulu ayam agar angin yang dihasilkan tidak keluar dari bambu dan menghembus cepat ke tungku satu. Luwu timur merupakan salah satu kabupaten yang baru dibentuk dan merupakan wilayah pemekaran dari Kabupaten Luwu Utara. Di Kabupaten Luwu Timur terdapat beragam suku bangsa karena Luwu Timur merupakan daerah transmigrasi. Adapun suku bangsa seperti Bugis, Luwu, Toraja, Bali, Jawa, Pamona, Padoe, Karunsie, dan Tambee, dan masih banyak lagi lainnya. Meskipun terdiri atas banyak anak suku, tetapi kehidupan toleransi beragama dan kesukuan cukup tinggi di wilayah ini. Di dalam kebudayaan suku Padoe terdapat beberapa warisan adat istiadat yang masih berjalan hingga saat ini, salah satunya yaitu tari moriringgo yang dilakukan pada saat pesta syukuran panen yang biasa disebut Padungku, yang masih berjalan hingga saat ini di beberapa daerah di Luwu Timur, yang mayoritas penduduknya berasal dari Suku Padoe. Tarian moriringgo adalah salah satu tarian tradisional anak suku Padoe (anak suku dari eks kerajaan Luwu), di samping tarian mongkaliboe, tarian laemba, tarian dero dan lain-lain. 1
Fungsi
Fungsi terdahulu dari tarian moriringgo yakni sebagai tarian kemenangan ketika Suku Padoe mengalami kemenangan di medan perang. Selain itu, tarian ini juga digunakan untuk melakukan budaya padungku (pesta panen). Budaya padungku dilaksanakan oleh masyarakat secara serentak dengan acara pokok makan bersama. Pada acara ini juga ditampilkan tarian dero bersama dan tarian moriringgo sebagai tarian pesta panen sebagai ungkapan rasa syukur. Fungsi tarian Moriringgo saat ini telah mengalami pergesaran, jika dahulu tarian ini hanya ditampilkan pada momen tertentu saja. Berbeda untuk saat ini sebab tarian Moriringgo telah dijadikan sebagai tari hiburan, tarian menyambut tamu kehormatan, ditampilkan pada festival tari tingkat kabupaten. Selain itu, tarian moriringgo kini memiliki nilai edukasi karena tarian ini telah dilestarikan melalui sanggar-sanggar tari dan diajarkan di sekolah. 1
Laki-laki
Ikat kepala segitiga yang terbuat dari kain batik. Model baju biasa dengan leher terbuka. Warna baju bisa beragam, ada warna merah, biru, dan kuning emas. Memakai selempang pada bagian bahu ke bawah. Terdapat hiasan pada pinggir leher, lengan, dan bagian bawah baju. Model celana biasa yang menggunakan karet di pinggulnya dan celana panjang satu jengkal di bawah lutut. Warna celana hitam dan bisa juga disesuaikan dengan warna baju (saluara Tinaboro). 1
Perempuan
Waloa untuk penutup kepala wanita terbuat dari kain, bagian depan dilengkapi dengan model yang menyerupai tanduk sapi. Warna baju beragam, ada warna merah, biru, dan kuning emas. Rok model panjang, bisa juga memakai sarung batik dengan motif warna hitam/coklat. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Moriringgo”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Moriringgo is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2