Tari Ngigel atau Tari Igel merupakan tari tradisional masyarakat Lampung Pepadun, khususnya yang berkembang di wilayah Lampung Utara. Tari ini berkaitan dengan pelaksanaan Begawi Cakak Pepadun, yaitu upacara adat dalam masyarakat Pepadun yang berkaitan dengan pemberian atau pengukuhan gelar dan kedudukan adat.
Istilah igel atau ngigel dalam konteks tari tersebut merujuk pada aktivitas menggoyangkan tubuh atau bergerak dengan lincah. Tari Igel memiliki karakter gerak yang kuat dan dinamis, dengan penggunaan gerak tangan, putaran tubuh, serta posisi tangan yang diangkat tinggi. Karakter geraknya berkaitan dengan representasi nilai-nilai maskulinitas dan ideal kepemimpinan dalam masyarakat Lampung Pepadun.
Dalam konteks pertunjukannya, Tari Igel tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni, tetapi juga berkaitan dengan nilai sosial dan adat. Gerak-geraknya merepresentasikan nilai yang dilekatkan pada sosok laki-laki ideal dalam masyarakat Pepadun, antara lain keperkasaan, keberanian, dan kesiagaan. Dengan demikian, tari ini menjadi bagian dari representasi simbolik mengenai karakter dan peran seorang pemimpin adat.
Fungsi Tari Igel juga berkaitan dengan proses pengesahan atau pengukuhan status sosial dalam struktur adat Pepadun. Dalam pelaksanaan Begawi Cakak Pepadun, tari ini menjadi bagian dari rangkaian ritual yang berhubungan dengan kedudukan seorang Suttan atau Penyimbang. Oleh karena itu, keberadaan Tari Igel tidak dapat dilepaskan dari konteks adat yang melatarbelakangi penyajiannya.
Dalam konteks kebudayaan Lampung, Tari Igel menunjukkan hubungan erat antara seni pertunjukan dan sistem sosial-adat. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Ngigel”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Ngigel is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2