Tari Pasere adalah tarian warisan upacara kerajaan Bulo-bulo dan Tondong, yang kini termasuk wilayah Kabupaten Sinjai. 1
Penamaan
Istilah sere berarti bergerak mondar-mandir tanpa arah tertentu yang kemudian dikaitkan dengan aktivitas menari. 1
Sejarah
Berdasarkan hikayat yang ditulis M. Thamar R (1984: 50), masyarakat pesisir timur Kerajaan Bulo-Bulo (kini Siinjai Timur) menemukan tari Pasere sekitar abad XV. Raja Tondong VI Lottong Daeng Marumpa yang mengetahui hal tersebut meminta Arung Sohohe untuk membawa penari tersebut ke Tondong. Sejak saat itu, tari Pasere menjadi bagian dari kerajaan Tondong dan ditampilkan di istana. Penarinya pada masa awal umumnya laki-laki. 1
Penari
Tari Pasere dapat ditampilkan oleh pria dan wanita. Jumlah penari ditentukan sesuai tujuan upacara. Pemimpinnya adalah seorang Sanro (dukun) atau Bissu. 1
Properti
Penampilan tari ini membutuhkan properti seperti kipas bundar (simpa), keris (alameng), selendang (cinde), dan pateko. 1
Kostum
Penari Pasere menggunakan pakaian adat baju bodo dengan sarung lipa garrusu bercorak garis hitam-merah, serta perhiasan. Khusus bagi Sanro, yang digunakan adalah baju labbu dan sarung. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Pasere”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Pasere is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2