The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Sakora merupakan tari asli Mukomuko yang sudah dimainkan pada masa zaman kerajaan Mukomuko tahun 1600-an. Tari tradisional ini berasal dari Kabupaten Mukomuko, Provinsi Bengkulu. Tari ini sering dimainkan oleh pemuda – pemudi pada masa itu, untuk menyambut raja. Selain menyambut raja, tari Sakora juga sering ditampilkan pada acara adat, pernikahan, dan acara resmi kerajaan Mukomuko dan sebagai penghibur pada momen hari raya Idul Fitri oleh masyarakat Mukomuko. Ada 9 elemen tari yang sering dimainkan pada Tari Sakora, yaitu Tari Sepaya, Tari Mak Inang, Tari Selendang Mak Inang, Tari Becerai Kasih, Tari Pulau Pinang, Tari Cik Siting, Tari Cesmarilom, Tari Berburu dan Tari Can Malican. Tari ini juga diiringi oleh alunan alat tradisional kecaping (Kecapi) Tari ini masih tetap dilestarikan oleh masyarakat Mukomuko pada saat ini. Tari ini sering ditampilkan pada momen HUT Kabupaten Mukomuko, acara pernikahan, acara penyambutan tamu resmi, dan biasa dimainkan pada Hari Raya Idul Fitri. 1
Sejarah Tari Sakora
Tari Sakora dulunya ditampilkan untuk menghibur tuan putri Kerajaan Kesultanan Mukomuko. Pada masa Kesultanan Mukomuko, sang raja saat itu memiliki ide untuk menghibur tuan putri dengan tari-tarian. Lantas sang raja memanggil pendekar silat untuk menari menghibur tuan putri di dalam kerajaan. langkah dari gerakan tari sakora mirip seperti langkah silat, yaitu langkah 3. Kemudian dari tari sakora ini ada 9 jenis tarian lagi. Sembilan tari ini menggambarkan kehidupan masyarakat Mukomuko pada zaman dahulu. Tari sakora ditampilkan juga menggunakan atribut sapu tangan, selendang dan payung, yang dimainkan minimal 2 orang atau lebih. Dahulu tari sakora penarinya hanya untuk laki-laki yang didandani seperti perempuan. Namun seiring berjalannya waktu dan perkembangan zaman, tari sakora juga dimainkan oleh penari perempuan. Kemudian dalam proses tari sakora ini, ada 3 orang penggiring musik, untuk alat musik yang digunakan seperti kecapi dan gendang ditambah dengan orang yang membacakan pantun. Untuk pembacaan pantun, biasa dibacakan merupakan kegiatan masyarakat Mukomuko di zaman dahulu. 1
Pelestarian
Direktorat Jendral Kebudayaan, melalui Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek) menetapkan Tari Sakora Mokumuko Sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) di tahun 2024. Tidak hanya itu, Tari Sakora juga telah masuk di sekolah–sekolah tingkat SMA, untuk memperkenalkan kebudayaaan kesenian asli Mukomuko. Seperti Program P5 di SMA N 1 Mukomuko. Pada Kurikulum Merdeka, Sanggar Sakora Awak Mukomuko melakukan kerja sama dengan SMA N 1 Mukomuko dalam kegiatan penerapan program P5 kokurikuler berbasis projek, yang dirancang untuk menguatkan upaya pencapatan kompetensi dan karakter sesuai dengan Profil Pelajar Pancasila. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Sakora”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Sakora is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2