Tari Sembah Linting adalah tari kreasi yang berkembang di Lampung, yang menggabungkan unsur gerak dari Tari Sembah dan Tari Melinting. Tari ini dikembangkan sebagai tari penyambutan yang menggambarkan penghormatan terhadap tamu serta nilai keramahan dalam kehidupan masyarakat Lampung. Salah satu dokumentasi pertunjukan Tari Sembah Linting yang dipentaskan oleh Tim Tari Universitas Teknokrat Indonesia menyebutkan bahwa tari ini merepresentasikan unsur filosofis Tari Melinting dan nilai nemui nyimah, yaitu sikap ramah dalam menyambut tamu.
Unsur Tari Melinting dalam Tari Sembah Linting berkaitan dengan tradisi tari masyarakat Melinting di Lampung Timur. Tari Melinting sendiri merupakan tari tradisional masyarakat Lampung yang memiliki sejarah panjang dan mengalami perubahan bentuk, fungsi, serta penyajian dari lingkungan adat menuju bentuk pertunjukan yang lebih luas.
Dalam perkembangan Tari Melinting, sejumlah unsur gerak, busana, pola lantai, musik pengiring, serta fungsi pertunjukan mengalami penyesuaian. Perubahan tersebut berkaitan dengan upaya pelestarian dan pengembangan seni tradisional Lampung dalam konteks pertunjukan masa kini.
Tari Sembah sebagai salah satu unsur yang menjadi rujukan dalam Tari Sembah Linting memiliki fungsi utama sebagai tari penyambutan dan penghormatan kepada tamu. Sumber kebudayaan pemerintah mencatat bahwa tari sembah digunakan dalam penyambutan tamu atau undangan serta dalam sejumlah kegiatan adat masyarakat Lampung. Dalam perkembangannya, Tari Sembah kemudian dibakukan dengan nama Tari Sigeh Pengunten.
Penggabungan unsur Tari Sembah dan Tari Melinting dalam Tari Sembah Linting dapat dipahami dalam konteks perkembangan seni tari Lampung yang terus mengalami penciptaan dan pengembangan bentuk baru. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari sembah linting”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari sembah linting is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2