The tradition & historical record
4 min read · 2 sourcesTari Sigeh Pengunten adalah tari tradisional Lampung yang berfungsi sebagai tari penyambutan dan penghormatan kepada tamu. Tari ini berkembang sebagai salah satu bentuk representasi kebudayaan Lampung dan memadukan unsur adat Pepadun dan Saibatin. Pemerintah Provinsi Lampung membakukan Tari Sigeh Pengunten pada 1989 sebagai salah satu tari yang merepresentasikan identitas budaya Lampung. Tari Sigeh Pengunten ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 2014 dengan nomor registrasi 2012002541 dalam kategori seni tradisi. Dalam dokumen penetapan tersebut, pengampu budaya tari ini dicatat sebagai masyarakat adat Sebatin dan Pepadun. Tari tersebut dijelaskan sebagai kesenian tradisional Lampung yang berfungsi sebagai simbol penghormatan kepada tamu agung. 1
Sejarah
Tari Sigeh Pengunten berkembang dari tradisi tari penyambutan yang sebelumnya dikenal dengan berbagai bentuk dan sebutan, termasuk tari sembah. Proses pembentukannya berkaitan dengan kebutuhan untuk menghadirkan suatu bentuk tari yang dapat merepresentasikan keberagaman adat Lampung, khususnya unsur Pepadun dan Saibatin. Sejumlah penelitian menyebutkan bahwa pembakuan Tari Sigeh Pengunten berlangsung pada 1989. Dalam kajian etnokoreologi, pembentukan tari tersebut dikaitkan dengan pertemuan tokoh adat dan seniman Lampung serta upaya menghadirkan sebuah tari yang dapat mewakili identitas budaya masyarakat Lampung. Kajian lain menjelaskan bahwa pembentukan tari tersebut berkaitan dengan peleburan unsur budaya dari dua kelompok adat Lampung yang dalam sejumlah sumber disebut Pepadun dan Peminggir atau Saibatin. Proses tersebut menghasilkan bentuk tari yang kemudian digunakan sebagai salah satu representasi kebudayaan Lampung. 1
Fungsi
Tari Sigeh Pengunten terutama berfungsi sebagai tari penyambutan tamu. Tari ini digunakan dalam pembukaan berbagai kegiatan dan acara, baik yang bersifat formal maupun nonformal. Penyajiannya menempatkan penari sebagai pihak yang menyampaikan penghormatan dan sambutan kepada tamu yang hadir. Dalam praktik masyarakat Lampung, Tari Sigeh Pengunten juga dapat ditampilkan dalam berbagai kegiatan adat dan perayaan, termasuk acara perkawinan. Penelitian mengenai pembelajaran tari ini di sekolah dan sanggar menunjukkan bahwa fungsi penyambutan tetap menjadi salah satu konteks utama pengajarannya. 1
Ragam gerak
Tari Sigeh Pengunten terdiri atas rangkaian ragam gerak yang membentuk struktur tari secara keseluruhan. Kajian etnokoreologi terhadap tari ini mengelompokkan geraknya ke dalam tiga kategori, yaitu gerak berpindah tempat atau locomotion, gerak murni atau pure movement, dan gerak maknawi atau gesture. Gerak locomotion antara lain diwakili oleh gerak lapah tebeng, sedangkan gerak pure movement antara lain diwakili oleh samber melayang. Gerak gesture antara lain diwakili oleh jong silo ratu. Penelitian mengenai semiotika ragam gerak Tari Sigeh Pengunten mengidentifikasi makna pada berbagai bagian rangkaian gerak. Kajian tersebut membedakan makna yang muncul pada bagian-bagian gerak dengan makna keseluruhan rangkaian tari sebagai tari penyambutan dan penghormatan. Nama ragam gerak yang ditemukan dalam berbagai penelitian dan dokumentasi antara lain sembah, lapah tebeng, seluang mudik, jong silo ratu, jong ippek, ngerujung, ngetir, mempam bias, kenui melayang, ngiyau bias, gubuh gakhang, makurancang, lipetto, samber melayang, sabung melayang, belah hui, tolak tebing, dan beberapa variasinya. Dokumentasi gerak Tari Sigeh Pengunten di Tulang Bawang Barat pada 2026 memperlihatkan sejumlah rekaman gerak yang diberi nama berdasarkan ragam geraknya. Dokumentasi tersebut mencakup variasi rekaman untuk beberapa gerak yang sama, seperti Mempam Bias, Makurancang, Ngerujung Kanan, Ngerujung Kiri, Sabung Melayang, Samber Melayang, dan Sembah. 1
Koreografi
Kajian koreografi terhadap Tari Sigeh Pengunten di Kabupaten Tulang Bawang Barat menyebutkan bahwa tari tersebut merupakan tari kelompok yang umumnya dibawakan oleh penari perempuan dalam jumlah ganjil. Penelitian tersebut mencatat jumlah minimal lima penari, dengan jumlah yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan pertunjukan. Gerak tari digambarkan memiliki karakter lemah gemulai yang berkaitan dengan kesopanan dan penghormatan kepada tamu. Kajian tersebut juga menghubungkan bentuk koreografi dengan kebiasaan masyarakat Lampung dalam menerima dan menjamu tamu. Struktur dan bentuk koreografi Tari Sigeh Pengunten dapat dianalisis melalui unsur bentuk, teknik, dan isi sebagaimana pendekatan kajian koreografi yang digunakan dalam penelitian tari. 1
Makna
Tari Sigeh Pengunten memiliki makna yang berkaitan dengan penghormatan, keramahan, dan penyambutan. Kajian simbolik terhadap tari ini menghubungkan gerak, iringan, tata rias, busana, dan properti dengan nilai-nilai budaya masyarakat Lampung. Kajian semiotika terhadap ragam gerak menunjukkan bahwa beberapa bagian tari dapat dipahami sebagai simbol penerimaan dan penghormatan terhadap tamu. Pemberian tepak yang berisi sirih kepada tamu dipahami sebagai bagian penting dalam struktur simbolik tari tersebut. Sejumlah penelitian juga menghubungkan Tari Sigeh Pengunten dengan falsafah hidup masyarakat Lampung, termasuk Piil Pesenggiri dan nilai-nilai yang berkaitan dengan hubungan sosial serta penerimaan terhadap tamu. Makna yang diberikan terhadap setiap ragam gerak merupakan hasil kajian dari penelitian tertentu dan tidak selalu merupakan tafsir tunggal yang berlaku pada seluruh bentuk penyajian Tari Sigeh Pengunten. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Sigeh Penguten”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Sigeh Penguten is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2