The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Soya-soya adalah salah satu tarian tradisi masyarakat Maluku Utara yang dipercaya telah ada sejak masa Kesultanan Ternate dipimpin oleh Sultan Babullah. Tarian ini termasuk dalam kategori tarian perang yang pada awal terciptanya ditarikan oleh 18 orang laki-laki atau lebih. Gerakan tari ini sangat lincah dan dinamis, beberapa gerakannya seperti kuda-kuda menyerang, menghindar dan menangkis. Pada tahun 2013, Tarian ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Nasional dengan nomor registrasi 201300066, pada domain seni pertunjukan dari Provinsi Maluku Utara. Kata Soya-Soya pada penamaan tari ini berasal dari bahasa Kayoa. Kata soya di beberapa daerah berarti “bilang” atau “katakan”, tetapi dalam konteks tarian ini soya-soya berarti “menggoreng tanpa minyak”. Penamaan ini merujuk pada perumpamaan semangat prajurit perang untuk menghadapi musuh, dengan prinsip bahwa lawan harus ditumpas hingga hancur, diibaratkan seperti digoreng tanpa minyak. Makna tersebut muncul sebagai bentuk ekspresi balas dendam terhadap penjajahan Portugis. Selain itu, Soya-Soya juga dimaknai sebagai “gerakan yang mengandung maksud”, di mana setiap gerakan memiliki arti khusus sesuai dengan sifat tarian. 1
Penari
Pada awalnya, Tari Soya-Soya hanya dibawakan oleh penari laki-laki. Tari ini ditarikan secara berkelompok dengan 13 orang penari yang terdiri atas 12 penari dan seorang pemimpin atau komandan. Formasi ini melambangkan pasukan yang dipimpin oleh panglima. Dalam perkembangannya, jumlah penari dapat disesuaikan dengan kondisi pementasan. 1
Busana
Penari Soya-Soya mengenakan busana atasan berupa kemeja putih berlengan panjang bersama celana putih setumit yang menyimbolkan kesucian. Penari juga mengenakan rok bersusun tiga selutut dengan perpaduan warna: bagian atas hijau melambangkan dasar keyakinan agama dan pengabdian kepada Tuhan, bagian tengah kuning memberikan kesan kebahagiaan, dan bagian bawah biru melambangkan ketenteraman hidup. Selain itu, digunakan selempang merah yang dipasang menyilang dari depan ke belakang yang menjadi simbol keberanian dalam menegakkan kebenaran. Ikat pinggang hitam digunakan sebagai simbol kebijaksanaan. Sebagai pelengkap, penari juga menggunakan penutup kepala berupa dairaji, tuala lipat, atau kopiah. 1
Properti
Penari Soya-Soya turut membawa properti berupa salawak dan ngana-ngana. Salawak dipegang dengan tangan kiri dan berfungsi sebagai perisai. Sementara itu, ngana-ngana adalah pengganti pedang yang berbunyi ketika digerakkan. Ngana-ngana terbuat dari daun woka, sejenis daun pandan khas Maluku Utara, yang digulung dalam bambu berisi kerikil atau kacang hijau. 1
Iringan musik
Pementasan Tari Soya-Soya diiringi dengan permainan alat musik tradisional berupa gong dan tifa kecil. Gong berfungsi sebagai alat ritme tambahan. Sementara tifa kecil sebagai penentu ritme sekaligus memperkuat suasana iringan tari. 1
Waktu
Tarian ini ditampilkan dengan durasi waktu 10-15 menit. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Soya-Soya”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Soya-Soya is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2