The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Sunda (Aksara Sunda Baku: ᮍᮤᮘᮤᮀ, bahasa Sunda: [Ngibing] Galat: {{Lang}}: text has italic markup (bantuan)) adalah tradisi tari yang merupakan bagian dari ritual, ekspresi seni, serta hiburan dan perilaku sosial di kalangan Masyarakat Sunda di Indonesia. Tari Sunda biasanya ceria, dinamis, dan ekspresif, dengan gerakan mengalir yang selaras dengan ketukan kendang yang diiringi oleh musik Gamelan dan degung. Dalam budaya Sunda, istilah ngibing berarti "menari", tetapi memang dilakukan dengan gaya Sunda tertentu, biasanya dilakukan antara pasangan pria dan wanita. Di Jawa Barat, yang dibutuhkan hanyalah suara wanita dan ketukan gendang untuk membuat pria berdiri dan menari. Setiap pria di sana melanggar standar kesopanan biasa dan tunduk pada irama pada upacara desa atau pernikahan. Musik yang digunakan para pria untuk menari bervariasi dari ansambel gong degung tradisional hingga pop kontemporer yang dikenal sebagai dangdut, tetapi mereka secara konsisten menari dengan sangat antusias. Henry Spiller dalam "Erotic Triangles" mengacu pada penelitian etnografi selama puluhan tahun untuk mengeksplorasi alasan di balik fenomena ini, dengan menyatakan bahwa pria Sunda menggunakan tarian untuk mengeksplorasi dan mewujudkan kontradiksi dalam identitas gender mereka. Membingkai tiga elemen penting dari tari Sunda—penghibur wanita, gendang, dan rasa kebebasan pria—sebagai sebuah segitiga. 1
Jenis-jenis Tari Sunda
Di antara tari-tari Sunda, mungkin Jaipongan adalah gaya dan bentuk yang paling populer. Tari Jaipongan dapat dilakukan sendiri oleh seorang penari wanita, dalam kelompok penari wanita, sebagai pasangan antara penari wanita dan pria profesional, atau sebagai pasangan ketika penari wanita profesional mengundang penonton pria untuk menari bersama mereka. Tari-tarian Sunda lainnya termasuk tari Topeng Sunda, Kandagan, Merak, Sisingaan, dan Badawang. Tari Merak adalah tarian yang dilakukan oleh penari wanita yang terinspirasi oleh gerakan burung merak dan bulunya yang dipadukan dengan gerakan klasik tari Sunda, yang melambangkan keindahan alam. Beberapa tarian mungkin menggabungkan gerakan gaya Pencak Silat Sunda. Karena Budaya Sunda umumnya berkembang di antara desa-desa pertanian padi di pegunungan Priangan, beberapa ritual tari seperti tari Buyung terlibat dalam festival panen padi Seren Taun, diiringi dengan musik angklung. Rampak kendang di sisi lain sebenarnya adalah pertunjukan kendang yang disinkronkan yang melibatkan beberapa gerakan tari yang terkoordinasi. Gaya tari Reog Sunda berbeda dengan gaya tari Reog Ponorogo Jawa Timur. Pertunjukan Reog Sunda memadukan unsur komedi, lawakan, musik, serta gerakan dan tarian jenaka dari para pemainnya. Berbeda dengan tari Jawa, tidak ada perbedaan yang jelas berdasarkan hierarki sosial antara tari istana dan tari rakyat jelata dalam tradisi Sunda. Sebagian besar tradisi tari Sunda dan budayanya dikembangkan oleh orang-orang biasa di desa-desa, fakta ini sebagian berkontribusi pada sejarah Sunda, Namun orang Sunda akrab dengan budaya aristokrat para menak (bangsawan) di wilayah Priangan, terutama di Cianjur, Bandung, Sumedang dan Ciamis. 1
Lihat juga
Tarian Indonesia Tari Jawa Tari Bali 1
Pranala luar
Tari Jaipong Tari Merak Tari Topeng Klana Priangan 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Sunda”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari sunda is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2