The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTari Tea Eku adalah tari tradisional masyarakat Nusa Tenggara Timur yang ditampilkan oleh para perempuan untuk menyambung pejuang perang. Secara etimologis, istilah Tea merujuk pada bunyi yang dihasilkan dari tabuhan gendang, sedangkan Eku menunjuk pada hiasan berupa rumbai yang dari bulu kambing atau bulu tengkuk kuda. Dalam perkembangannya, rumbai tersebut sering digantikan dengan sapu tangan. 1
Sejarah
Tarian ini telah diketahui keberadaannya sejak masa hidup leluhur masyarakat NTT, yakni Banga Langa, Siu Seba dan Mesi Dheo. Bentuk asli tarian ini berasal dari komunitas Tegu, Sodha, dan Anawa yang berada di Kelurahan Nata-nage, Kecamatan Boawae, Kabupaten Ngada. Seiring perkembangannya, tarian ini kemudian menyebar ke berbagai wilayah di Nusa Tenggara Timur, seperti Kabupaten Ende dan Kupang. Dahulu, sebelum kemerdekaan Indonesia masih sering terjadi perang antar suku. Biasanya, sebelum keberangkatan ke medan perang dan setelah kembali dari peperangan diadakan ritual adat yang dilengkapi dengan tari-tarian, termasuk tari toda gu dan tari tea eku. Tari Tea Eku diperankan oleh perempuan sebagai bentuk penyambutan bagi para pejuang yang kembali dari pertempuran. Seiring berjalannya waktu, perang semakin jarang terjadi, sehingga pementasan Tari Tea Eku pun mulai berkurang. Fungsi tari ini kemudian bergeser dari penyambutan pejuang menjadi tari penerima tamu dalam berbagai upacara adat, perayaan hari raya maupun acara seperti peresmian rumah baru, pembukaan kebun baru, pemotongan tiang pemali, pasca panen, serta pesta adat lainnya. 1
Penari
Tari ini dibawakan oleh kelompok penari perempuan dengan jumlah yang bervariasi, biasanya antara enam hingga dua belas orang. Para penarinya umumnya berasal dari kalangan gadis, sesuai dengan tradisi masyarakat Ngada di mana laki-laki yang turun ke medan perang, sedangkan perempuan berperan menyiapkan bekal serta perlengkapan pendukung. Jumlah penari dapat genap maupun ganjil. Apabila semua pemuda yang berperang kembali dengan selamat, jumlah penarinya genap. Sebaliknya, apabila ada pemuda yang gugur di medan pertempuran, maka jumlah penari Tari Tea Eku ditampilkan dalam formasi ganjil, misalnya lima, tujuh, sembilan, atau sebelas orang. 1
Busana
Penari mengankan atasan berupa baju Kodo berwarna hitam dengan motif peo (tiang penali) di bagian dadanya. Bawahannya berupa hoba, yakni sarung hitam dengan bunga kuning dengan panjang mencapai batas buku kaki. Sarun ini diikat pada pinggang penari dengan tali ege sebagai ikat pinggangnya. 1
Aksesoris
Penari mengenakan hiasan kepala berupa konde tradisional (Poco fu), gelang berbahan gading (Gela), anting emas (Wea), giring-giring pada kaki penari (woda), kalung (butu), dan rumbai-rumbai tangan (eku). 1
Ragam gerak
Inti dari ragam gerak tari Tea Eku berupa gerakan ritmis melalui langkah kecil yang menyerupai lari-lari atau loncatan ringan, disertai dengan kibasan rumbai atau sapu tangan sebagai simbol kemenangan sekaligus bentuk penghormatan. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Tea Eku”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Tea Eku is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2