The tradition & historical record
5 min read · 2 sourcesTari Topeng Cirebon gaya Palimanan tersebar disekitar kecamatan Palimanan, sebelum tahun 1500-an, Palimanan dan wilayah pegunungan Kromong disekitarnya masuk dalam wilayah kerajaan Rajagaluh (kini lebih dari setengah wilayahnya yang berada di sisi barat pegunungan Kromong masuk kedalam wilayah kabupaten Majalengka, yang khas dari gaya Palimanan jika dibandingkan dengan gaya-gaya lainnya yang mengelilinginya seperti gaya Kalianyar, gaya Gegesik dan gaya Slangit adalah pada sikap kuda-kuda yang disusun oleh Ki Wentar (maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan) yang menekankan bahwa kuda-kuda harus mengikuti postur dan kecakapan penari atau dalangnya, sehingga pada setiap penari atau dalang topeng Cirebon gaya Palimanan sangat mudah ditemukan kuda-kuda yang berbeda menurut kepantasan dan kecocokan postur pada setiap penarinya. 1
Sejarah gaya Palimanan
Cerita mengenai tari Topeng Cirebon gaya Palimanan pernah dinarasikan oleh Theodore G Th Pigeaud dalam bukunya Javaanse volksvertoningen. Bijdrage tot de beschrijving van land en volk yang terbit pada 1938, Pigeaud menjelaskan bahwa tari Topeng Cirebon gaya Palimanan memiliki kedekatan yang harmonis secara budaya dengan wilayah-wilayah di Priyangan seperti Sumedang, Ciamis, Garut, Tasikmalaya dan Bandung sejak awal tahun 1900-an, tidak hanya tari Topeng Cirebon gaya Palimanan, wayang orang Cirebon juga memasuki wilayah ini Kesenian-kesenian Cirebon yang ditampilkan mampu menarik minat masyarakatm terbukti dengan berjejalnya masyarakat untuk menyaksikan kesenian yang dibawakan. Rombongan ini memiliki andil sebagai rombongan kesenian tari Topeng Cirebon gaya Palimanan yang pertamakali masuk ke pedalaman wilayah Priyangan, dikatakan rombongan tersebut memiliku dua orang dalang yaitu Ki Wentar dan Ki Koncar dan berkeliling untuk menggelar aksinya (bahasa Cirebon: Bebarangan), jarak yang ditempuh oleh rombongan tersebut ketika bebarangan di wilayah Priyangan kira-kira sekitar 420 kilometer 1
Nama asli dari Ki Wentar adalah Ki Kudung, julukan Wentar sebenarnya baru diberikan oleh bupati Bandung pada saat itu, yakni Pangeran Adipati Aria Martanegara (1893-1918) yang diambil dari kosakata Kawentar yang berarti terkenal, tetapi dalam keterangan lain, Ki dalang Sukarta yang merupakan keluarga dari Ki Wentar meyakini bahwa julukan tersebut (Wentar) sebenarnya diberikan oleh kesultanan Kasepuhan. 1
Musik pengiring
Musik pengiring yang digunakan pada pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan diantaranya adalah; 1
Kembang sungsang, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaan tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Panji Gaya-gaya, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Samba, kata Gaya-gaya diambil dari gerakan watak Samba yang lincah dan banyak tingkah. Malang totog, merupakan tetaluan (tabuhan gamelan) yang dimainkan saat pagelaran tari Topeng Cirebon gaya Palimanan babak Tumenggung. 1
Babak tarian
Babak tarian yang dibawakan pada gaya Palimanan hampir serupa dengan yang ada pada gaya Beber dan Randegan namun dengan penambahan babak Klana Udeng sebagai akhir dari pagelarannya. 1
Panji, gerakannya sangat menghayati diam namun penuh arti, sunyi ing raga, ngaji diri (bahasa Indonesia: menyepi diam dan mendekatkan diri) terhadap allah swt, babak ini dalam gaya Palimanan melambangkan jiwa yang bersih suci tanpa dosa seperti bayi yang baru lahir. Samba, gerakannya sangat lincah merefleksikan anak balita yang sangat lincah dan senang bermain. Tumenggung, menggambarkan jiwa yang mulai dewasa dengan ditandai tumbuh kumis tipis pada topeng tumenggung yang merefleksikan sudah dimilikinya tanggung jawab dalam kehidupan. Jingga anom, babak pementasan seperti teater yang menceritakan tokoh Jingga Anom. Klana, merefleksikan sekumpulan puncak jiwa amarah murka dari topeng Panji, Samba, Tumenggung, Jingga Anom yang menjelma jadi satu menjadi angkra murka Rumyang, babak Rumyang ini menandai sudah terlepasnya hawa nafsu duniawi, dipentaskan saat terbitnya matahari, saat sinar sudah terlihat samar-samar (bahasa Cirebon: ramyang-ramyang), babak ini dalam gaya Palimanan diterjemahkan sebagai penemuan jati diri yang sesungguhnya jatiningsun ing gusti (bahasa Indonesia: diri ini berserah kepada Allah swt), memproyeksikan jiwa yang centil dan ganjen (bahasa Indonesia: mencari perhatian) (dalam arti ganjen terhadap Allah swt) ganjen berlomba-lomba menuntut dan mentaati peraturan Allah swt serta mulai memandang dunia yang arum (bahasa Indonesia: harum) yaitu alam akhirat Klana udeng, gerak tarinya perpaduan semua gerak tari lima wanda (babak Topeng) namun dengan menambahkan gerakan yang belum sempat ditarikan di topeng lima wanda tersebut, babak Klana Udeng dipentaskan dengan tidak menggunak… 1
Gerakan tari
Tari Topeng Cirebon gaya Palimanan memiliki ciri khas pada berbagai macam posisi berdiri yang diciptakan oleh dalang Wentar, posisi-posisi tersebut disesuaikan dengan postur tubuh dan kepantasan penarinya, ditambah dengan penafsiran yang berbeda dalam meresapi watak dalam cerita topeng, membuat gerakan tarian Topeng gaya Palimanan ini berbeda. 1
Dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan
Para dalang tari Topeng Cirebon gaya Palimanan sebagian besar merupakan keturunan dari dalang Wentar, Ki Dalang Wentar mempunya beberapa orang anak diantaranya Mimi Mini, Mimi Ami, Ki Dalang Saca, Mimi Nesih dan Mimi Soedji, di antara keturunan dari Wentar yang terkenal adalah Tursini anak dari dalang Soedji seorang maestro tari Topeng Cirebon gaya Palimanan. Beberapa keturunan dalang Wentar tidak hanya berdiam di kecamatan Palimanan saja. tetapi menyebar ke wilayah lainnya terutama kabupaten Majalengka. Dalang Sukarta yang kini tinggal di desa Bongas, kecamatan Sumber Jaya, kabupaten Majalengka, merupakan salah satunya, dalang Sukarta merupakan keturunan Ki Wentar dari jalur Mimi Mini, anak Mimi Mini yaitu Mimi Ina yang kemudian menikah dengan Ki dalang Entang dari desa Balad, kecamatan Dukupuntang, kabupaten Cirebon merupakan ibu dan ayahnya, sehingga Ki Dalang Sukarta sekaligus menjadi cucu bagi Ki dalang Saca (anak dalang Wentar) dan dalang Soedji yang merupakan saudara neneknya yaitu dalang Mini. dalang lain yang terkenal dari gaya Palimanan adalah Ki dalang Ade Irfan. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Topeng Cirebon (Gaya Palimanan)”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tari Topeng Cirebon (Palimanan) is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2