The tradition & historical record
3 min read · 2 sourcesTarian Dabi Dabi adalah salah satu tarian tradisional dari Desa Sasadu, Jailolo, Halmahera Barat, Maluku Utara.Tarian ini biasanya di tampilkan oleh enam orang dengan aksesoris lengkap. Tarian Dabi-dabi merupakan salah satu bagian dari rangkaian upacara adat Orom Sasadu. Tarian ini dibawakan oleh penari laki-laki dan perempuan, termasuk dari kalangan remaja, dan digunakan sebagai bagian dari penyambutan dalam pelaksanaan upacara. Tarian tersebut diiringi oleh alat musik tradisional seperti bubungan, didiwang, dan saraki. Sebelum tarian dimulai, para pemuka adat membacakan doa sebagai bagian dari pembukaan upacara. Tarian ini dulunya penuh dengan unsur mistis karena mengandung tarian dalam ritual tertentu. 1
Upacara adat
Pelaksanaan Orom Sasadu berlangsung di Sasadu, yaitu bangunan adat masyarakat Halmahera yang memiliki atap dari anyaman daun sagu. Sebelum upacara dimulai, bangunan Sasadu dipersiapkan untuk digunakan sebagai tempat berkumpul dan melaksanakan rangkaian kegiatan adat. Masyarakat juga menyiapkan berbagai makanan yang akan disajikan dalam upacara. Salah satunya adalah cala, yaitu nasi khas Halmahera yang dibungkus menggunakan kulit pisang hutan. Hidangan lainnya antara lain ikan bakar rica, pisang molubebe, dan sayur acar. Makanan tersebut berasal dari hasil yang diperoleh masyarakat dan dimasak secara bersama-sama. Pada malam hari, masyarakat berkumpul di dalam Sasadu untuk menikmati makanan bersama dengan diiringi musik tradisional. Setelah makan, kegiatan dilanjutkan dengan berbincang-bincang. Saguer, yaitu minuman hasil fermentasi pohon aren, turut disajikan dalam kegiatan tersebut. Dalam pelaksanaan upacara, terdapat sejumlah aturan bagi masyarakat yang ingin berpartisipasi. Pada pelaksanaan di Desa Gamtala pada 19 Mei 2013, peserta diwajibkan berusia lebih dari 15 tahun serta mengenakan celana panjang dan ikat kepala. Arum Sasadu, yang juga disebut Orom Sasadu, merupakan pesta rakyat yang diselenggarakan untuk merayakan hasil panen. Secara tradisional, upacara ini dilaksanakan setiap enam bulan sekali dan dapat berlangsung selama sembilan malam berturut-turut. Dalam perkembangannya, pelaksanaan upacara dapat diselenggarakan dalam waktu yang lebih singkat. Pada pelaksanaan di Desa Gamtala pada 2013, misalnya, kegiatan dilaksanakan selama satu hari. 1
Sejarah
Terdapat kisah unik di balik tarian ini, Konon dulunya anak perempuan Sultan Ternate, Haerun, pernah menangis selama tujuh hari tujuh malam. Tangisan tersebut baru berhenti ketika ada dua orang dari Desa Sasadu datang dan memperagakan tarian dan nyanyian untuk menghibur sang bayi. Sultan kemudian dikisahkan menyebut gerakan tersebut sebagai Tarian Sara Dabi-dabi. Hingga kini, Tari Sara Dabi-Dabi digelar rutin setiap tahun pada perhelatan Festival Teluk Jailolo. Selain itu, tarian ini kerap dibawakan oleh anak-anak desa diiringi dengan tabuhan tifa serta alat musik khas Jailolo lainnya untuk menyambut tamu yang baru datang. 1
The text above is adapted from the Wikipedia article “Tari Sara Dabi-Dabi”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1
Tarian Sara Dabi Dabi is recorded in open cultural data. The structured record cited below does not describe the practice, and this entry has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2
The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2