Family unrecorded

Zikir Saman

Indonesia

Zikir Saman atau dikenal juga sebagai Zikir Maulud merupakan kesenian tari bertema Islam yang berasal dari Pandeglang, Banten yang masih bertahan sampai saat ini.

No licensed photograph yet
Four in five rooms open without one. Add a photograph with a declared licence and your credit sits under it, permanently.
Archival typographic plate · seeded for Zikir Saman+ Add licensed photo →
Understand in 30 Seconds · In Plain Words

Quick guide to Zikir Saman

Sourced or Silent · CC BY-SA 4.0

Zikir Saman atau dikenal juga sebagai Zikir Maulud merupakan kesenian tari bertema Islam yang berasal dari Pandeglang, Banten yang masih bertahan sampai saat ini.

01 · What it is
Living Tradition

Documented cultural tradition on record; family classification awaits an editor.

02 · Where & name
Indonesia

Placed on record in Indonesia.

03 · How it is doing
□□□□ (Not yet assessed)

Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

04 · Proof & reuse
2 cited sources

Every claim links to a public record below. Free to quote, teach, and share under CC BY-SA 4.0.

Chapter Takeaways
SejarahSaman berasal dari kata Arab ثمانية yang berarti delapan yang mengacu pada jumlah awal penari yang berjumlah delapan orang.
PertunjukanJumlah pemain Zikir Saman berjumlah kisaran 26 sampai 46 orang dengan komposisi 2 sampai 4 orang yang berperan sebagai vokalis (beluk) dan sisanya kisaran 20 sampai 40 orang menjadi penari mengikuti lengkingan beluk…
Common Questions Answered on Record
What is Zikir Saman in plain words?

Zikir Saman atau dikenal juga sebagai Zikir Maulud merupakan kesenian tari bertema Islam yang berasal dari Pandeglang, Banten yang masih bertahan sampai saat ini.

Where is Zikir Saman practised or documented?

Sources on this page place Zikir Saman in Indonesia.

What is the current condition of Zikir Saman today?

□□□□ (Not yet assessed): Documented in open cultural records, but no cited field assessment of its current vitality has been added here yet.

How do I cite or share this Zikir Saman entry?

Cite as: "Zikir Saman." folkroom, https://folkroom.org/art-forms/zikir-saman, text CC BY-SA, with attribution.

Share or cite this roomNo tracking · CC BY-SA 4.0
WhatsAppXLinkedInRedditFacebook

The tradition & historical record

3 min read · 2 sources

Zikir Saman atau dikenal juga sebagai Zikir Maulud merupakan kesenian tari bertema Islam yang berasal dari Pandeglang, Banten yang masih bertahan sampai saat ini. Berbeda dengan tari saman khas budaya Aceh, penari tarian zikir saman semuanya adalah laki-laki dengan diiringi syair yang mengagungkan asma Allah SWT dan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW yang dibawakan oleh 2 orang vokalis (beluk). Awalnya kesenian zikir saman ini hanya dilakukan pada hari kelahiran Nabi Muhammad SAW (muludan) saja, kemudian berkembang menjadi berbagai acara perayaan lainnya seperti acara khitanan (sunatan), acara syukuran rumah, peresmian mesjid, serta acara pernikahan. Pada tahun 2012, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan Zikir Saman sebagai Warisan Budaya Tak Benda dari Provinsi Banten. 1

Sejarah

Saman berasal dari kata Arab ثمانية yang berarti delapan yang mengacu pada jumlah awal penari yang berjumlah delapan orang. Kesenian ini sudah ada pada abad XVIII sejak zaman Kesultanan Banten dibawah kesultanan Maulana Hasanuddin yang kemudian dibawa oleh para ulama sebagai syiar agama islam pada masyarakat Banten yang sebelumnya menganut ajaran hindu-Buddha. Salah satu tokoh penting penyebaran kesenian Zikir Saman adalah Ki Sarimi yang berasal dari Lebak, Banten. 1

Pertunjukan

Jumlah pemain Zikir Saman berjumlah kisaran 26 sampai 46 orang dengan komposisi 2 sampai 4 orang yang berperan sebagai vokalis (beluk) dan sisanya kisaran 20 sampai 40 orang menjadi penari mengikuti lengkingan beluk secara bersahutan menjadi koor yang disebut alok. Syair pujian-pujian yang disenandungkan oleh beluk terdapat didalam kitab bernama Kitab Barzanji. Umumnya pakaian pemain Zikir Saman terdiri dari baju kampret, dodot dengan motif kain batik, celana pangsi hitam, ikat kepala batik, dan ikat pinggang batik. Untuk ketentuan seragam pemain tidak dibuat seragam tetapi menyesuaikan dengan tradisi setempat. Intrumen musik (waditra) yang digunakan berupa alat musik bernama Hihid. Hihid terbuat dari kulit kerbau yang menyerupai kipas berukuran 40 x 40 cm dengan pegangan rotan sepanjang 70 cm yang dimainkan seperti gamelan yaitu dipukul sampai menghasilkan irama nada mengiringi beluk. Kesenian Zikir Saman ini diisi dengan 3 babak (episode) yang terdiri dari Babak Zikir, Babak Asrogol, dan Babak Saman. Babak pertama yaitu Babak Zikir dimulai pada pukul 08.00 sampai 12.00 yang diisi dengan berzikir, berdoa, serta Shalawat pada Rasulullah SAW diiringin dengan irama hihid dengan formasi saling berhadapan. Babak kedua yaitu Babak Asrogol dimulai selepas Shalat Dzuhur sampai pukul 15.00 bada Shalat Ashar yang diisi dengan lengkingan vokal beluk diiringi dengan gerakan berdiri dan jongkok secara bergantian. Diiringi dengan irama 'hihid' pemain melantukan syair riwayat Nabi Muhammad SAW dari kitab Barzanji. Kemudian babak terakhir yaitu Babak Saman yang dimulai pada pukul 17.00 sampai selesai (bada shalat Maghrib) para pemain menari menggerakan kaki dan tangan diiringi vokal beluk tanpa diiringi irama dari hihid. 1

The text above is adapted from the Wikipedia article “Zikir Saman”, available under the Creative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 licence. 1

Zikir Saman is dance/prayer of Banten, Indonesia, according to the structured record cited below. This entry was generated automatically from that record and has not yet been reviewed by a person familiar with the tradition. 2

The source record links this tradition to 1 external register, which can be verified through the citation. 2

No recording linked yet — know one? Point at it →
Sources on Record
[1]Wikipedia: Zikir Saman · encyclopedia
Sourced or Silent · Still Open

Questions awaiting a cited source

+ Answer with a source →
How many people perform it today?
When is it first attested, and by whom?
What does it look like? No licensed photograph yet.